About Febriyanto, S.E., M.M.

Real.

Diversifikasi Investasi Internasional di Era MEA


Diversifikasi investasi Internasional diera MEA memberikan daya tarik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya diberbagai aset investasi. Diversifikasi investasi Internasional menjadikan investor tidak hanya menentukan diversifikasi pada berbagai industri tetapi juga berbagai negara.

Berinvestasi pada berbagai industri dan negara ditengah pemberlakuan pasar bebas yang telah aktifkan awal tahun 2016, terdiri dari berbagai aspek, yaitu Nilai return yang diharapkan, Tingkat Risiko yang ditanggung karena berbagai investor dan perusahaan akan berperan. Korelasi nilai return yang diharapkan dengan risiko dipertimbangkan berdasarkan optimalisasi dan efisiensi portofolio. (Febriyanto, 2018)

Advertisements

Diversifikasi Internasional


Kutipan Disertasi Febriyanto, “Diversifikasi Portofolio Internasional di Era MEA”: Teori diversifikasi berawal dari disertasi Harry Markowitz pada 1952, yang menurunkan manfaat utama diversifikasi secara kuantitatif dengan menggunakan portofolio yang terdiri atas dua aset berisiko. Melalui matematika sederhana, Markowitz mampu membuktikan jika risiko portofolio dapat menjadi minimum jika kedua aset itu mempunyai koefisien korelasi negatif sempurna yaitu -1. Markowitz juga menemukan bahwa diversifikasi selalu dapat menurunkan risiko portofolio sepanjang koefisien korelasi tidak positif sempurna atau < 1.

Diversifikasi merupakan strategi investasi melalui penempatan dana ke dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana diberbagai instrumen investasi, tidak menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio. Berdasarkan hasil studi, perbedaan performa lebih banyak dikarenakan oleh alokasi aset (asset allocation) bukan pada pilihan investasi (investment selection). Tujuan diversifikasi adalah untuk meminimalisir tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup.

Penelitian yang dilakukan oleh Rodoni (2011), dengan sampel 17 bursa saham menemukan bahwa investasi di bursa negara maju risikonya lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Semakin rendah korelasi maka semakin besar manfaat diversifikasi. Pendapat Lessard (1973) menujukan bahwa, koefisien determinasi berhubungan secara terbalik dengan keinginan menginvestasikan disatu negara. Pengaruh globalisasi yang terjadi pada abad 21 terhadap ekonomi menyebabkan pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam sebuah sistim ekonomi global. Semangat globalisasi ini mendorong para investor antar negara melakukan diversifikasi internasional sehingga portofolio internasional menjadi sebuah tujuan dalam menerapkan strategi.

Melakukan diversifikasi internasional, memberikan manfaat yang besar bagi investor dibanding hanya berinvestasi pada pasar lokal. Kontribusi return melalui diversifikasi internasional dalam jangka panjang yang diperoleh investor akan lebih tinggi dibanding investasi yang hanya dilakukan pada pasar modal lokal. Melakukan diversifikasi internasional, investor akan memperoleh manfaat pengurangan resiko pada tingkat keuntungan tertentu. Besarnya manfaat yang akan diperoleh investor akan sangat tergantung dari koefisien korelasi, resiko dan tingkat return di masing-masing pasar modal tersebut (Tandelilin, 2010).

Melalui investasi dengan memperhatikan pertumbuhan pasar-pasar modal di negara-negara berkembang (emerging market) membuka peluang bagi investor untuk melakukan diversifikasi internasional. Emerging market mempunyai karakteristik pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan pasar maju sehingga dapat dimanfaatkan investor untuk membentuk portofolio yang lebih menguntungkan. Beberapa karakteristik risiko dan return yang ada di emerging market: Volatilitas yang tinggi, dalam ukuran mata uang asing, dollar Amerika misalnya, hampir keseluruhan emerging market mempunyai volatilitas antara 30% sampai dengan 70%. Angka tersebut relatif lebih besar dibandingkan dengan volatilitas pasar Amerika sebesar 15%. Bahkan angka tersebut akan lebih besar lagi jika dihitung dengan menggunakan mata uang lokal.

Beberapa karakteristik risiko dan return yang ada di emerging market: Return yang tinggi. Emerging market menawarkan return yang tinggi, karena emerging market banyak yang mengalami pertumbuhan yang cukup menakjubkan. Beberapa karakteristik risiko dan return yang ada di emerging market: Korelasi yang rendah antara emerging market dengan pasar modal yang maju. Hal ini akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi investor yang melakukan diversifikasi internasional. Artinya, jika pasar modal suatu negara berkembang mempunyai korelasi yang rendah, maka perubahan siklis ekonomi yang terjadi di negara tersebut tidak  terlalu berpengaruh pada pasar modal negara maju.

Investasi internasional dengan mendiversifikasikan dana pada berbagai jenis sekuritas di berbagai negara juga akan terkait dengan semua jenis risiko yang terjadi pada investasi dalam negeri ditambah dua jenis risiko tambahan, yakni: pertama Risiko Nilai Tukar (exchange risk), yaitu ketidakpastian pergerakan nilai tukar antara mata uang domestik (mata uang negara asal investor) dan mata uang luar negeri. Kedua Risiko Politik (political risk), yaitu ketidakpastian ‘kemampuan’ investor mengkonversikan aliran kas hasil investasi internasional yang dilakukannya ke dalam mata uang domestik.

Tingkat return investasi internasional dipengaruhi oleh tingkat return aset pada pasar dimana aset tersebut berada dan perubahan tingkat nilai tukar mata uang (exchange rate) antara mata uang dimana aset tersebut diperdagangkan dan mata uang domestik. Umumnya, return total yang bisa diperoleh dari investasi secara internasional akan terdiri dari tiga komponen, yaitu: pendapatan dividen, capital gain (loss), dan keuntungan (kerugian) nilai tukar mata uang (currency gain/losses). Return total yang bisa diperoleh dari investasi secara internasional akan terdiri dari tiga komponen, yaitu: pendapatan dividen, capital gain (loss), dan keuntungan (kerugian) nilai tukar mata uang (currency gain/losses). (Febriyanto:2018)

Menyambut Ramadhan


Ramadhan akan segera tiba, bulan suci ini menyimpan banyak manfaat bagi hamba yang taat dalam memenuhi perintah Alloh SWT.

Puasa di bulan ramadhan meru­pakan ibadah yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu, sebagai­mana disabdakan oleh Nabi:

“Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW bersabda:  Barang­siapa yang berpua­sa pada bulan Ra­madan dengan iman dan mengha­rap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dosa adalah ko­toran yang ada pada hati, yang akhimya mempergelap per­jalanan menuju Allah SWT. Di bulan suci Ramadan Allah SWT memberi kesempatan ke­pada kita untuk membersihkan hati melalui berbagai macam ibadah, khususnya ibadah puasa.

Ramadan, yang berarti panas, dikandung maksud agar dengan berpuasa pada bulan Ramadan kita dapat membakar dosa-dosa kita. Kalau kita akan membersihkan kotoran yang ada pada baju atau pada benda lain, misalnya, tentu ada berbagai cara. Ada kotoran yang bisa dibersihkan dengan cukup disiram air saja, dicuci menggunakan sabun, ada yang harus memakai alat pemutih, bahkan ada juga kotoran yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan cara dibakar.

Pande besi, misalnya, ketika akan membuat senjata tajam dari besi, maka besi itu harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cara dibakar. Pembakaran ini dimaksudkan untuk membersihkan dari kotoran yang berupa karat. Setelah besi itu bersih, barulah bisa dibentuk. Semua itu bisa terjadi ketika besi itu telah dibakar, dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel padanya.

Dosa manusia, juga me­miliki berbagai cara untuk bisa di­hilangkan. Ada dosa yang bisa hilang dengan cara melaksanakan wudlu, sebagai­mana hadis Ra­sulullah SAW ten­tang fadhilah wudlu. Ada dosa yang ter­hapus karena iba­dah shalat. Ada juga do­sa yang terampuni ketika kita melaksanakan ibadah puasa.

Ramadan, selain bulan yang penuh rahmat, juga bulan yang penuh maghfirah atau ampunan. Oleh karenanya sungguh merugi jika melewatkan Ramadan begitu saja tanpa diisi ibadah dan amalan-amalan yang baik, serta permohonan ampun kepada Allah SWT guna mem­bersihkan diri dari kotoran dan noda menuju kebersihan dan ke­sucian hati.

Menjelang akhir Rama­dan, para ma­laikat turun ke bumi di sebuah malam yang disebut lailatul qadar untuk mengatur segala urusan. Lailatul qadar merupakan malam mulia yang diidam-­idamkan oleh orang mukmin, dan orang yang memperoleh lailatul qadar merupakan orang yang sangat berun­tung, karena malam tersebut lebih baik dari seribu bulan (±80 tahun), sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Qadr : 3-5

3.Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Pada akhir-akhir bulan Ramadhan inilah akan terlihat, siapa yang benar-benar berpua­sa dengan iman dan mengha­rap ridha Allah dan siapa yang tidak. Siapa yang memanfaatkan Ramadhan dengan maksimal dan siapa yang tidak. Keadaan yang sering kita lihat di akhir Ramadhan adalah Jamaah shalat di masjid mulai berkurang, gema tadarus Quran juga mulai berkurang.

Maka sepertinya tidak salah, jika ada yang mengatakan, sepuluh hari akhir bulan Ramadhan adalah babak final, babak akhir menuju kemenangan. Jika kualitas ibadah diakhir ramadhan semakin meningkat, jumlah kegiatan ibadah diakhir ramadhan semakin bertambah, mudah-mudahan yang seperti itu termasuk orang-orang yang akan menuju kemenangan dan kesucian (fitri), menang dalam mengalahkan segala bentuk keinginan dan perbuatan yang dilarang.

Semoga di bulan Ramadan tahun ini kita semua dapat menggunakan waktu dan ke­sempatan dengan sebaik-baiknya. Semoga kita semua termasuk orang yang dipilih Allah sebagai para pemenang. Amin

 

 

 

 

 

 

 

 

Berhala Zaman Now


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Di hadapan para sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW tercinta menuturkan dauh nubuwwat, sebuah sabda yang kontennya menjangkau peristiwa yang akan datang. “Akan datang suatu zaman atas manusia, perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar (uang) mereka menjadi agama mereka. Dan kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka.”

Para sahabat menyimak penuh khidmat. Lanjut Sang Nabi, “Waktu itu, tidak tersisa dari iman kecuali namanya saja. Tidak tersisa dari Islam kecuali ritual-ritualnya saja. Tidak tersisa Alquran kecuali sebatas kajiannya saja. Masjid-masjid mereka makmur, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah-Nya). Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi.”

Tergurat dari wajah para sahabat, rasa sedih dan cemas. Dipandanginya lekat-lekat wajah Rasul, disimaknya kalam-kalam bertutur manusia pilihan tersebut. Hingga sampailah Sang Murabby Agung itu menggambarkan keadaan apa yang akan terjadi nanti jika sudah sedemikian menyedihkan kondisi umatnya.

“Kalau sudah terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka empat perkara (azab). Pertama, kekejaman tak berperi dari para penguasa. Kedua, kekeringan tak terhingga yang sangat lama. Ketiga, beraneka kezaliman para pejabat kepada rakyat jelata. Dan keempat, pisau hukum para hakim tumpul, sekarat, dan berkarat.”

Atas tuturan ini, para sahabat pun terheran-heran. Mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah mereka ini para penyembah berhala?”

“Ya! Bagi mereka, setiap dirham (uang) menjadi berhala (dipertuhankan/disembah),” pungkas Nabi SAW.

Hadis yang cukup panjang riwayat Bukhari Muslim yang muttafaq alaih ini pun akhirnya menjadi renungan kita semua. Berhala itu bukan lagi patung-patung atau arca. Berhala zaman now itu berupa uang.

Kini, kita lihat bagaimana keadaan kita. Hari-hari kita fokusnya selalu uang. Detik, menit, dan jam dihitungnya dengan standar uang. Berangkat pagi pulang malam, bahkan hingga tidak pulang, yang dicari dan dikejar adalah uang.

Pemimpin dan para pejabatnya berusaha mati-matian untuk mengekalkan zona nyamannya; ternyata pengorbitnya adalah uang. Para hakim kehilangan muruah agungnya. Hukum dipermainkan atas kepentingan pemilik modal. Jika modal kuat, pisau hukum kelihatan tumpul. Sebaliknya terhadap pihak yang tidak ada modal pisau hukum sangat tajam. Ujung-ujungnya bisa ditebak semua karena uang.

Ikhwah fillah, mari sadarkan diri kita semua. Uang memang bisa membeli rumah, tapi tidak bisa membeli ketenangan. Uang bisa membeli dunia, tapi tidak akan pernah bisa membeli bahagia. Bahagia dan surga hanya bisa dibeli dengan ‘sekadar uang’ yang dikuasakan oleh ketaatan yang sempurna kepada Allah dan rasul-Nya. Wallahu a’lam. (sumber: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/03/09/p5b2a4396-berhala-zaman-now)

DELAPAN PINTU REZEKI DARI ALLAH


1.Rezeki Yang Telah Dijamin.

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
“Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya.”
(Surah Hud : 6).

2. Rezeki Karena Usaha.

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.”
(Surah An-Najm : 39).

3. Rezeki Karena Bersyukur.

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(Surah Ibrahim : 7).

4. Rezeki Tak Terduga.

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(Surah At-Thalaq : 2-3).

5. Rezeki Karena Istighfar.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).

6. Rezeki Karena Menikah.

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya.”
(Surah An-Nur : 32).

7. Rezeki Karena Anak.

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa’ : 31).

8. Rezeki Karena Sedekah

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Surah Al-Baqarah : 245).

Luncurkan ia ke group lain
Mudah-mudahan ada rezeki yang baik untuk kita
semoga bermanfaa

ANALISIS INTEGRASI PASAR MODAL MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO INTERNASIONAL


ANALISIS INTEGRASI PASAR MODAL ASEAN 5

MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN

PENGARUHNYA TERHADAP DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO INTERNASIONAL

(Febriyanto)
1431041003
(Mahasiswa S3 FEB Universitas Lampung)

 

Latar Belakang

Konsep diversifikasi berawal dari disertasi Harry Markowitz pada 1952 yang kemudian mengalami penyempurnaan dan penyederhanaan sehingga berdampak pada implementasi teori tersebut di dunia keuangan. Model konsep risiko yang dikembangkan Markowitz adalah konsep dari risiko portofolio. Dia menurunkan manfaat utama diversifikasi secara kuantitatif dengan menggunakan portofolio yang terdiri atas dua aset berisiko.

Risiko spesifik perusahaan merupakan faktor risiko yang unik terkait dengan kondisi perusahaan. Market related risk merupakam nondiversifiable risk, yaitu risiko yang tidak dapat dieliminir dengan diversifikasi dan merupakan risiko yang berasal dari kondisi ekonomi dan kondisi pasar umum yang tidak dapat didefenisikan. Risiko sistematis atau risiko pasar merupakan risiko yang timbul akibat dari kejadian-kejadian di luar perusahaan seperti: perubahan sistem pemerintahan, bencana alam, perubahan ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya dan teknologi. Risiko ini tidak dapat dieliminasi dengan diversifikasi karena risiko ini melekat dalam pasar. Sedangkan, risiko tidak sistematis merupakan risiko yang berhubungan dengan kejadian acak dan disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam perusahaan seperti: pemogokan buruh, tuntutan pihak lain, perkara hukum serta kejadian-kejadian unik lainnya. Risiko ini dapat dieliminasi dengan diversifikasi yaitu dengan cara memiliki beberapa sekuritas tunggal dalam bentuk portofolio.

Diversifikasi merupakan sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda. Diversifikasi ini bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio.

Berdasarkan sudut pandang investor, diversifikasi internasional merupakan suatu cara yang dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan risiko dengan cara membentuk suatu portofolio investasi yang terdiri atas kombinasi berbagai macam aset keuangan yang investasinya dilakuakan di negara–negara yang berbeda sehingga terbentuk suatu portofolio yang optimal yang menjanjikan return yang optimal pula.

Mulai diberlakukanya sistem keterbukaan dari beberapa negara dalam bentuk kerjasama, akan membentuk sistem yang terintegrasi. Integrasi merupakan proses dimana pasar yang tersegmentasi menjadi terbuka dan terpadu. Implikasi dari integrasi pasar modal tersebut menyebabkan kecenderungan harga dan imbal hasil aset keuangan yang diperdagangkan di berbagai negara akan sama dalam basis mata uang yang sama.

Integrasi ekonomi internasional membatasi kewenangan suatu negara untuk mempengaruhi kinerja ekonomi dalam negeri. Hilangnya kedaulatan negara merupakan biaya atau pengorbanan terbesar yang ”diberikan” oleh masing-masing negara yang berintegrasi dalam satu kawasan. Adanya kemungkinan hilangnya pekerjaan dan potensi menjadi pasar bagi Negara yang tidak mampu bersaing. Tenaga kerja dan produksi dari Negara lain dalam suatu kawasan akan masuk dengan hambatan yang lebih ringan. Hal ini berpotensi menimbulkan pengangguran di dalam negeri dan ketergantungan akan produk impor yang lebih murah dan efisien.

Sejak tahun 1967, negara-negara Asia Tenggara melakukan perhimpunan kerjasama. Perhimpunan negara-negara tersebut ada awalnya merupakan kerjasama bidang politik, namun kerjasama tersebut berkembang menjadi lebih luas, termasuk kerjasama dalam bidang ekonomi.

Perkembangan kerjasama dalam bidang ekonomi bermula dari konsep Preferential Trade Arrangement  (PTA) setelah itu berubah menjadi  Free Trade Area (FTA). Perubahan terakhir kerjasama ASEAN menjadi pembentukan ASEAN Economic Community (AEC). Konsep ini dipertegas dalam KTT ASEAN Oktober 2003 di Bali dalam Deklarasi ASEAN  Concord II (Bali Concord II).

ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah perwujudan dari hasil pemikiran negara anggota ASEAN sebagai kawasan yang makmur dan memiliki daya saing tinggi. Pembentukan MEA pada tahun 2015 berfungsi sebagai wilayah basis produksi dan pasar tunggal. Program MEA meliputi kebebasan aliran barang, tenaga kerja, aliran modal, juga bertujuan dalam rangka mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi.

Pencapaian target MEA agar dapat terwujud, maka dilakukan pertemuan pada bulan Agustus 2003 untuk tingkat menteri keuangan negara-negara ASEAN, di Filipina. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan tentang Roadmap Integrasi ASEAN (RIA) bidang finansial (RIA-Fin) yang mencakup 4 bidang, yaitu, pertama: pengembangan pasar modal, kedua: liberalisasi neraca modal, ketiga: liberalisasi jasa keuangan, dan keempat: kerja sama nilai tukar.  Kesepakatan konsep Roadmap kerjasama pasar modal tersebut diwujudkan dalam rangka membentuk kerjasama pasar modal yang saling terkait karena terintegrasi, meningkatkan perdagangan intra kawasan dan memperdalam integrasi ekonomi regional.

Penelitian yang menguji korelasi nilai harga saham antara pasar saham berkembang Asia, tanpa melibatkan pengaruh penting pasar saham negara maju menunjukkan bukti derajat integrasi yang rendah (Chaudhuri, 1997; Sharma dan Wongbangpo, 2002; Worthington et al., 2004; dan Yang et al., 2003). Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian Nath (2003) yang menguji inter-dependensi pasar saham di Asia Selatan, yaitu India, Singapura dan Taiwan dan menemukan tidak ada koin-tegrasi diantara indeks pasar saham untuk keseluruhan periode penelitian. Studi Chan, et al. (1992) dan Hung dan Cheung (1995) juga menyimpulkan bahwa pasar saham Asia tidak terintegrasi. Berbeda dengan penelitian Montiel (1994), yang membuktikan bahwa dengan mobilitas modal yang tinggi diantara negara-negara Asia (Korea, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina) menyebabkan pasar saham Asia lebih terintegrasi. Sedangkan penelitian Palac-McMiken (1997) menunjukkan hasil bahwa selama periode 1987-1995 kebanyakan pasar Asia (kecuali Indonesia) mempunyai keterkaitan bersama yang kuat dengan pasar Thailand.

Sepuluh pasar saham berkembang Asia diteliti oleh Divecha et al. (1992) tentang integrasi pasar saham. Penelitian tersebut mendapatkan temuan bahwa mereka adalah homogen dengan dominasi kekuatan pasar yang kuat dan kurang terkorelasi antara satu dengan yang lainnya dengan pasar yang telah maju. Struktur korelasi diantara sebelas pasar saham Asia berkembang dan pasar yang telah maju diuji oleh Cheung dan Ho (1991) dan Cheung (1993). Pengujian tersebut memperoleh temuan bahwa korelasi kelompok pasar saham Asia berkembang dan kelompok pasar yang telah maju adalah lebih kecil dari pada antara pasar yang telah maju. Chan et al. (1992) sementara temuan bahwa tidak ada kointegrasi pasar saham AS dan banyak pasar saham Asia berkembang (Korea, Hongkong, Singapura, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan Filipina) di tahun 1980-an dan pada permulaan 1990-an. DeFusco et al. (1996). Hasil temuan tersebut didukung oleh Ng (2000), Climent dan Meneu (2003) yang tidak menemukan bukti empiris hubungan dinamis jangka panjang antar pasar saham maju dan berkembang.

Bukti kajian empiris tentang korelasi jangka panjang diantara pasar saham berkembang dan pasar saham maju yang dilakukan oleh Masih dan Masih (1997, 1999, 2002), Arshanapalli, Doukas, dan Land (1995), dalam kajian mereka membuktikan bahwa hanya terdapat satu vektor kointegrasi diantara beberapa pasar utama Asia berkembang, (yaitu: Singapura, Hongkong, Korea, dan Taiwan) dan pasar saham maju utama. Studi Ghosh, et al. (1999) menemukan bahwa beberapa pasar saham Asia mempunyai keseimbangan hubungan jangka panjang dengan pasar saham maju, sementara beberapa yang lain tidak..

Kajian empiris Sharma dan Wongbangpo (2002) tentang korelasi pasar saham ASEAN-5 menggunakan teknik kointegrasi selama periode Januari 1986-Desember 1996. Hasil kajianya membuktikan bahwa terdapat kointegrasi jangka panjang antar pasar saham di negara-negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, kecuali Filipina. Kajian menarik dari penelitian ini adalah pasar saham Singapura dan Malaysia secara bersama-sama bergerak one for one dalam vektor terkointegrasi. Kemungkinan hal ini disebabkan karena korelasi perdagangan antar kedua negara tersebut kuat, geografis dan faktor budaya yang memiliki kesamaan. Melalui pendekatan Johansen Max-imum Likelihood dan teknik Hall Kalman Filter dan Haldane dalam menganalisis serta menguji pergerakan bersama (co-movement) beberapa pasar saham yang ada di ASEAN-5 dan pasar saham yang berada diluar kawasan yaitu Korea Selatan, Taiwán, Hongkong, Jepang dan AS. Manning (2002).

Data yang dianalisis yaitu indeks saham per minggu dan per kuartal pada mata uang dollar AS untuk periode Januari 1988 – Februari 1999. Temuannya membuktikan bahwa terdapat dua common trends dalam 8 (delapan) indeks pasar saham Asia yang dimodelkan, dan juga dalam model Johansen VAR terdapat dua common trends jika memasukkan pasar AS.

Analisis VAR yang digunakan oleh Rahim dan Nor (2007) untuk menguji struktur dinamis transmisi internasional dalam return saham ASEAN-5 plus Jepang, Korea dan Hongkong dengan menggunakan data indeks saham perbulan selama Januari 1986 sampai Desember 2006. Analisis tersebut memberikan kesimpulan yaitu: 1. Derajat interdependensi antara pasar saham nasional meningkat setelah terjadi krisis Asia pada tahun 1997. 2. Pasar saham negara Thailand memiliki peran penting dalam mempengaruhi pasar saham ASEAN-5+3. dan 3. Peranan negara Jepang terhadap pasar saham Asia yang lain meningkat secara subtansi setelah masa krisis.  Royfaizal et al (2008) melakukan penelitian terhadap interdependensi pasar saham ASEAN-5 plus Cina, Jepang, Korea dan AS selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 2007. Kurun waktu tersebut dibagi atas 3 (tiga) subperiode yang meliputi sebelum, saat dan sesudah krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Penggunaan datanya yaitu indeks harga saham perminggu dalam mata uang lokal. Melalui uji kointegrasi jumlah vektor terkointegrasi yang signifikan sepanjang periode masa krisis lebih banyak dari periode lain, sedangkan jumlah vektor yang terkointegrasi tidak mengalami perbedaan antara periode sebelum krisis dan sesudah. Berdasarkan Uji Granger kausalitas berdasar VECM membuktikan bahwa negara Thailand eksogen sementara negara Malaysia lebih endogen sebelum krisis dan sepanjang krisis. Sesudah krisis, negara AS lebih dominan dibandingkan negara-negara lain. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa, pasar AS dan ASEAN-5+3 dalam kondisi saling ketergantungan pada waktu sepanjang dan setelah krisis serta pengaruh pasar saham AS yaitu efektif terhadap pasar saham ASEAN-5+3 sebatas periode sebelum kerisis dan sepanjang krisis.

Pasar modal ASEAN yang terintegrasi, akan meningkatkan perannya dalam peningkatan pembangunan ekonomi negara-negara ASEAN. Liaw (2005) mengatakan, peran pasar modal ini penting, karena pasar modal merupakan sumber pendanaan jangka panjang bagi korporasi dan untuk memperoleh tambahan nilai keuntungan bagi investor. Bursa-bursa saham yang terintegrasi akan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan modal secara efisien. Sedangkan bagi para investor dapat menanamkan modalnya pada sekuritas atau investasi portofolio.

Pasar modal merupakan pasar perdagangan surat berharga (baik simpanan maupun hutang) dimana perusahan-perusahaan baik swasta maupun pemerintah dapat memperoleh dana jangka panjang. Pasar modal dapat juga didefinisikan sebagai pasar ekuitas dengan masa pengembalian pinjaman lebih dari satu tahun, berbeda dengan pasar surat berharga yang lain dengan masa pengembalian jangka pendek, yaitu kurang dari satu tahun seperti pasar uang (Jogiyanto, 2008). Pasar modal memfasilitasi dan menghubungkan pihak-pihak yang mempunyai dana lebih untuk menginvestasikan dana yang dimiliki dengan return yang lebih besar daripada menyimpan dananya di lembanga keuangan atau bank dan pihak yang membutuhkan dana untuk mengembangkan bisnisnya dengan sistem pengembalian jangka panjang. Berdasarkan konsep tersebut, menjadikan pasar modal memiliki peranan yang penting terkait pengembangan perekonomian di seluruh dunia.

Pasar modal dapat mendeskripsikan kondisi kesehatan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara, ketika kebijakan-kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi suatu negara baik pada sudut pandang investor, maka akan diimbangi dengan harga-harga saham yang akan naik atau meningkat dan kondisi ini mampu meningkatkan nilai indeks harga saham gabungan dari suatu negara. Kondisi sebaliknya, bila kondisi perekonomian sedang buruk, biasanya harga saham akan mengalami penurunan dan terpuruk. Berdasar peristiwa tersebut, akhirnya berbagai macam usaha dilakukan setiap negara untuk meminimalisasi risiko yang ada dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Usaha yang dilakukan salah satunya yaitu melakukan integrasi ekonomi terutama pasar modal yang memberikan gambaran kegiatan pasar yang sebenarnya terjadi. Integrasi pasar dapat terwujud jika dua pasar yang terpisah memiliki pergerakan indeks yang sama dan memiliki korelasi diantara pergerakan indeksnya (Click dan Plummer, 2003). Perubahan dan pergerakan ini disebabkan oleh berubahnya harga–harga saham individual. Pergerakan harga saham ini disebabkan oleh beberapa faktor yang memberi pengaruh, baik pengaruh secara langsung maupun pengaruh secara tidak langsung; sebagai contohnya adalah volume perdagangan saham, persepsi dari investor dan berbagai berita fundamental yang lain. Berdasarkan pada penelitian Chen dan Siems (2004), disimpulkan bahwa harga dari saham individual merefleksikan dari harapan para investor dan ketakutan terhadap kondisi yang akan datang, pergerakan harga saham dapat berupa gelombang naik turun yang selalu aktif.

Oleh karena itu, kejutan yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa di suatu negara dapat mengakibatkan volatilitas pergerakan harga saham di negara tersebut dan efeknya juga dapat dirasakan oleh negara-negara disekitarnya. Berdasarkan pada penelitian dari Karolyi and Stulz (1996) menemukan bahwa korelasi dan kovariansi dari pasar saham menjadi tinggi pada saat pasar mengalami banyak pergerakan. Hal ini akan semakin nampak pada saat pasar mengalami kejutan yang besar. Kejutan yang terjadi pada pasar ekuitas dapat berasal dari berbagai peristiwa, seperti krisis ekonomi, pergantian pemerintahan, kekacauan politik, bencana alam dan berbagai kejadian lain yang mempengaruhi kondisi perekonomian.

Berdasarkan penelitian Karolyi dan Stulz (1996) maka terintegrasinya pasar modal akan meningkatkan peran pasar modal dalam pembangunan ekonomi negara. Pentingnya peran pasar modal ini menurut Liaw (2005) karena pasar modal merupakan sumber pendanaan jangka panjang bagi korporasi dan untuk memperoleh keuntungan bagi investor. Terintegrasinya bursa-bursa saham akan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk memperoleh modal secara efisien. Sementara bagi investor dapat menanamkan modalnya pada sekuritas atau investasi portofolio. Sejauh mana pasar keuangan internasional terintegrasi, akan menjadi isu yang menarik bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar.

Integrasi ekonomi regional dapat digunakan sebagai alat politik untuk mengembangkan negara serta secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang ada. Dia juga menuliskan bahwa integrasi yang tercipta akan memberikan keuntungan bagi negara anggota dengan cara memberikan akses pasar terhadap negara lain, meminimalisasi risiko, menjadikan koordinasi peraturan semakin mudah dan mengurangi biaya pada industri yang ada. (Balassa, 1975;45)

Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi gerakan-gerakan regional Asia. Plummer dan Jones (2006) menyebutkan tujuh faktor yang mempengaruhi adanya tren gerakan regional di kawasan Asia Timur. Pertama adalah hubungan contagion (penularan) yang jelas. Kedua adalah adanya kesamaan nasib dalam menghadapi krisis. Ketiga adalah kurangnya perkembangan dari organisasi Asia Pacific Economy Cooperation (APEC) dalam mewujudkan terciptanya peningkatan kerjasama perdagangan dan keuangan serta pengembangan bersama dalam kerjasama pemberian bantuan antar negara. Keempat adalah tawaran dari Jepang agar bersikap pro aktif dalam menghadpi krisis di kawasan Asia. Kelima adalah keputusan Cina untuk tidak melakukan devaluasi dalam masa-masa krisis juga meningkatkan rasa solidaritas kawasan Asia Timur. Keenam adalah adanya keberhasilan New Miyazawa Plan yang diluncurkan pada tahun 1998 sebagai penyembuh krisis. Ketujuh adalah kebijakan yang diterapkan IMF untuk mengatasi krisis dianggap tidak sesuai. Mengakibatkan peningkatan kredibilitas bagi “pendekatan Asia” dalam mengatasi krisis. Pengamatan seberapa integrasi yang terjadi sebenarnya dapat dilakukan pada berbagai aspek ekonomi suatu negara. Namun pengamatan integrasi yang terjadi pada sektor pasar modal merupakan salah satu hal pokok yang perlu diperhatikan. Hal ini disebabkan karena dalam sepuluh tahun ini keuangan internasioanal dan pasar modal menjadi sangat terintergrasi. Ditiadakannya pembatasan arus modal, penggunaan floating exchange rates, peningkatan sistem komunikasi dan beberapa instrument baru lainnya yang memberikan kontribusi dalam proses integrasi. Deregulasi telah mendorong globalisasi dan integrasi yang pada saatnya menciptakan akses yang lebih baik dan sangat transparannya informasi dan harga. (Palac-McMiken, 1997;299).

Beberapa tahun terakhir banyak peneliti yang telah melakukan studi empiris terhadap integrasi pasar modal di ASEAN yang memberikan beberapa kesimpulan yang dapat dikembangkan lebih dalam. Dimulai dengan temuan oleh Click dan Plummer (2005) dengan menggunakan teknik time series kointegrasi untuk menguji adanya korelasi pada pasar ASEAN. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kelima negara ASEAN telah terintegrasi dalam perekonomian namun tida sepenuhnya tersegmentasi oleh perbatasan nasional.

Pendapat tersebut didukung oleh Mukherjee dan Mishra (2007) yang menguji comovement dari dua puluh tiga negara pasar saham. Negara yang berada pada satu daerah didapati lebih terkorelasi dibandingkan dengan negara yang berbeda daerah. Namun, dalam penelitiannya mengenai hubungan antara pasar modal Asia dengan US Siddiqui (2009) yang menggunakan korelasi Pearson menemukan bahwa persentase korelasi berkisar sedang hingga tinggi pada negara-negara tersebut kecuali Jepang yang menunjukan tingkat korelasi yang lebih kecil. Tidak ada pasar modal yang sangat mendominasi pasar modal lainnya dan pengaruh US terhadap pasar modal Asia tidaklah signifikan seperti temuan beberapa penelitian sebelumnya.

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, kondisi sistem perekonomian negara-negara di dunia yang semakin terbuka menyebabkan terjadinya perubahan yang akan mempengaruhi keragaman ekonomi domestik suatu negara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan regulasi pasar keuangan internasional dan tidak ketatnya capital control menyebabkan investor melakukan diversifikasi investasi secara domestik, antar negara atau secara internasional. Prinsip dasar diversifikasi internasional adalah “the broader the diversification, the more stable the returns and the more diffuse the risks” artinya investor yang melakukan diversifikasi memungkinkan untuk memaksimumkan return portofolio dengan suatu tingkat risiko tertentu atau meminimumkan risiko dengan return tertentu. Hal ini berarti, risiko adalah faktor penting ketika melakukan investasi.

Investor memahami jika pasar saham internasional mempunyai perbedaan karakteristik baik dari segi negara dan industri, sehingga tingkat resiko yang dihadapipun akan berbeda. Investor yang rasional selalu menginginkan tingkat return yang maksimal dari investasinya. Return yang cukup tinggi yang diperoleh pada saham disertai juga dengan tingkat risiko yang tinggi. Dalam saham, risiko terbagi menjadi dua, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis atau biasa juga disebut dengan risiko pasar dalah faktor risiko yang mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Jadi, pergerakan harga saham tertentu akan dipengaruhi oleh pergerakan bursa saham secara keseluruhan.

Risiko sistematis ini tidak dapat dikendalikan oleh investor, serta tidak dapat hilang melalui diversifikasi. Sementara itu, risiko tidak sistematis atau sering disebut juga specific risk, adalah risiko bahwa event tertentu yang terjadi pada perusahaan atau industrinya yang kemudian mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut. Investor dapat mengurangi risiko tidak sistematik dari suatu investasi saham dengan melakukan pembentukan portofolio saham.

Pembentukan portofolio di pasar internasional akan berdampak pada semakin baiknya tradeoff antara risiko dan return. Melakukan diversifikasi internasional, memungkinkan tergesernya efficient frontier (slopenya menjadi semakin besar) investasi menuju kombinasi risiko dan return yang lebih baik. Semakin terintegrasi dan berkembangnya pasar keuangan global dapat menyulitkan investor untuk memprediksi besarnya expected return dan risiko yang dihadapi. Beberapa isu baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kondisi suatu negara atau perusahaan, akan dengan cepat direspon oleh investor dan ini merupakan salah suatu sinyal negatif dari resiko penularan. Pengaruh negatif ini akan memberikan pengaruh pada stabilitas sektor keuangan internasional dan hal ini merupakan salah satu faktor risiko yang perlu untuk dipertimbangkan dalam melakukan investasi.

Teori portofolio mendeskripsikan bahwa diversifikasi mampu mengurangi risiko portofolio yaitu menghindari investasi pada aset-aset yang berkorelasi sempurna. Investor melakukan diversifikasi internasional dimotivasi untuk memperoleh expected return dan diharapkan bisa tercapai sehingga investor selalu mempertimbangkan besarnya risiko yang diterima. Nilai aset-aset internasional sering kurang berkorelasi dan ditentukan oleh berbagai faktor fundamental ekonomi suatu negara yang terkait. Korelasi antar pasar modal luar negeri merupakan salah satu indikator utama dari keuntungan yang bisa didapatkan oleh diversifikasi antar berbagai kelas aset antar negara. Biasanya, negara maju dengan perekonomian yang tentunya lebih maju mempunyai keterkaitan yang cukup erat pada perdagangan antar negara dan cenderung memiliki tingkat korelasi yang lebih tinggi dengan perekonomian dunia.

Konsep dari teori keuangan internasional mendeskripsikan bahwa pasar yang tersegmentasi akan memberikan dampak positif bagi nilai portofolio internasional. Investor dapat meminimalkan risiko dengan melakukan diversifikasi sehingga risiko-risiko investasi akan menyebar ke berbagai negara yang berbeda dan investor dapat juga meminimalkan efek negatif dari volatalitas pasar serta untuk jangka panjang akan meningkatkan return. Studi Grauer dan Hakansson (1987) menyatakan bahwa risiko investasi portofolio internasional dapat dikurangi dengan memasukkan aset asing ke dalam investasi portofolio suatu negara. Faktor utama yang menentukan keuntungan diversifikasi internasional adalah suku bunga dan country risk. Suku bunga merupakan risiko yang dimiliki suatu negara, risiko yang dimaksud`adalah risiko dalam investasi. Semakin tinggi suku bunga maka akan menyebabkan semakin tinggi masuknya aliran modal asing ke dalam negeri.

Melalui perkembangan saham domestik dan saham internasional yang berbeda, perkembangan bursa saham antara negara satu dengan lainnya tidak sama, sehingga investor harus melakukan diversifikasi, baik dipasar modal domestik maupun internasional.