ANALISIS INTEGRASI PASAR MODAL MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO INTERNASIONAL


ANALISIS INTEGRASI PASAR MODAL ASEAN 5

MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN

PENGARUHNYA TERHADAP DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO INTERNASIONAL

(Febriyanto)
1431041003
(Mahasiswa S3 FEB Universitas Lampung)

 

Latar Belakang

Konsep diversifikasi berawal dari disertasi Harry Markowitz pada 1952 yang kemudian mengalami penyempurnaan dan penyederhanaan sehingga berdampak pada implementasi teori tersebut di dunia keuangan. Model konsep risiko yang dikembangkan Markowitz adalah konsep dari risiko portofolio. Dia menurunkan manfaat utama diversifikasi secara kuantitatif dengan menggunakan portofolio yang terdiri atas dua aset berisiko.

Risiko spesifik perusahaan merupakan faktor risiko yang unik terkait dengan kondisi perusahaan. Market related risk merupakam nondiversifiable risk, yaitu risiko yang tidak dapat dieliminir dengan diversifikasi dan merupakan risiko yang berasal dari kondisi ekonomi dan kondisi pasar umum yang tidak dapat didefenisikan. Risiko sistematis atau risiko pasar merupakan risiko yang timbul akibat dari kejadian-kejadian di luar perusahaan seperti: perubahan sistem pemerintahan, bencana alam, perubahan ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya dan teknologi. Risiko ini tidak dapat dieliminasi dengan diversifikasi karena risiko ini melekat dalam pasar. Sedangkan, risiko tidak sistematis merupakan risiko yang berhubungan dengan kejadian acak dan disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam perusahaan seperti: pemogokan buruh, tuntutan pihak lain, perkara hukum serta kejadian-kejadian unik lainnya. Risiko ini dapat dieliminasi dengan diversifikasi yaitu dengan cara memiliki beberapa sekuritas tunggal dalam bentuk portofolio.

Diversifikasi merupakan sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda. Diversifikasi ini bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio.

Berdasarkan sudut pandang investor, diversifikasi internasional merupakan suatu cara yang dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan risiko dengan cara membentuk suatu portofolio investasi yang terdiri atas kombinasi berbagai macam aset keuangan yang investasinya dilakuakan di negara–negara yang berbeda sehingga terbentuk suatu portofolio yang optimal yang menjanjikan return yang optimal pula.

Mulai diberlakukanya sistem keterbukaan dari beberapa negara dalam bentuk kerjasama, akan membentuk sistem yang terintegrasi. Integrasi merupakan proses dimana pasar yang tersegmentasi menjadi terbuka dan terpadu. Implikasi dari integrasi pasar modal tersebut menyebabkan kecenderungan harga dan imbal hasil aset keuangan yang diperdagangkan di berbagai negara akan sama dalam basis mata uang yang sama.

Integrasi ekonomi internasional membatasi kewenangan suatu negara untuk mempengaruhi kinerja ekonomi dalam negeri. Hilangnya kedaulatan negara merupakan biaya atau pengorbanan terbesar yang ”diberikan” oleh masing-masing negara yang berintegrasi dalam satu kawasan. Adanya kemungkinan hilangnya pekerjaan dan potensi menjadi pasar bagi Negara yang tidak mampu bersaing. Tenaga kerja dan produksi dari Negara lain dalam suatu kawasan akan masuk dengan hambatan yang lebih ringan. Hal ini berpotensi menimbulkan pengangguran di dalam negeri dan ketergantungan akan produk impor yang lebih murah dan efisien.

Sejak tahun 1967, negara-negara Asia Tenggara melakukan perhimpunan kerjasama. Perhimpunan negara-negara tersebut ada awalnya merupakan kerjasama bidang politik, namun kerjasama tersebut berkembang menjadi lebih luas, termasuk kerjasama dalam bidang ekonomi.

Perkembangan kerjasama dalam bidang ekonomi bermula dari konsep Preferential Trade Arrangement  (PTA) setelah itu berubah menjadi  Free Trade Area (FTA). Perubahan terakhir kerjasama ASEAN menjadi pembentukan ASEAN Economic Community (AEC). Konsep ini dipertegas dalam KTT ASEAN Oktober 2003 di Bali dalam Deklarasi ASEAN  Concord II (Bali Concord II).

ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah perwujudan dari hasil pemikiran negara anggota ASEAN sebagai kawasan yang makmur dan memiliki daya saing tinggi. Pembentukan MEA pada tahun 2015 berfungsi sebagai wilayah basis produksi dan pasar tunggal. Program MEA meliputi kebebasan aliran barang, tenaga kerja, aliran modal, juga bertujuan dalam rangka mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi.

Pencapaian target MEA agar dapat terwujud, maka dilakukan pertemuan pada bulan Agustus 2003 untuk tingkat menteri keuangan negara-negara ASEAN, di Filipina. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan tentang Roadmap Integrasi ASEAN (RIA) bidang finansial (RIA-Fin) yang mencakup 4 bidang, yaitu, pertama: pengembangan pasar modal, kedua: liberalisasi neraca modal, ketiga: liberalisasi jasa keuangan, dan keempat: kerja sama nilai tukar.  Kesepakatan konsep Roadmap kerjasama pasar modal tersebut diwujudkan dalam rangka membentuk kerjasama pasar modal yang saling terkait karena terintegrasi, meningkatkan perdagangan intra kawasan dan memperdalam integrasi ekonomi regional.

Penelitian yang menguji korelasi nilai harga saham antara pasar saham berkembang Asia, tanpa melibatkan pengaruh penting pasar saham negara maju menunjukkan bukti derajat integrasi yang rendah (Chaudhuri, 1997; Sharma dan Wongbangpo, 2002; Worthington et al., 2004; dan Yang et al., 2003). Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian Nath (2003) yang menguji inter-dependensi pasar saham di Asia Selatan, yaitu India, Singapura dan Taiwan dan menemukan tidak ada koin-tegrasi diantara indeks pasar saham untuk keseluruhan periode penelitian. Studi Chan, et al. (1992) dan Hung dan Cheung (1995) juga menyimpulkan bahwa pasar saham Asia tidak terintegrasi. Berbeda dengan penelitian Montiel (1994), yang membuktikan bahwa dengan mobilitas modal yang tinggi diantara negara-negara Asia (Korea, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina) menyebabkan pasar saham Asia lebih terintegrasi. Sedangkan penelitian Palac-McMiken (1997) menunjukkan hasil bahwa selama periode 1987-1995 kebanyakan pasar Asia (kecuali Indonesia) mempunyai keterkaitan bersama yang kuat dengan pasar Thailand.

Sepuluh pasar saham berkembang Asia diteliti oleh Divecha et al. (1992) tentang integrasi pasar saham. Penelitian tersebut mendapatkan temuan bahwa mereka adalah homogen dengan dominasi kekuatan pasar yang kuat dan kurang terkorelasi antara satu dengan yang lainnya dengan pasar yang telah maju. Struktur korelasi diantara sebelas pasar saham Asia berkembang dan pasar yang telah maju diuji oleh Cheung dan Ho (1991) dan Cheung (1993). Pengujian tersebut memperoleh temuan bahwa korelasi kelompok pasar saham Asia berkembang dan kelompok pasar yang telah maju adalah lebih kecil dari pada antara pasar yang telah maju. Chan et al. (1992) sementara temuan bahwa tidak ada kointegrasi pasar saham AS dan banyak pasar saham Asia berkembang (Korea, Hongkong, Singapura, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan Filipina) di tahun 1980-an dan pada permulaan 1990-an. DeFusco et al. (1996). Hasil temuan tersebut didukung oleh Ng (2000), Climent dan Meneu (2003) yang tidak menemukan bukti empiris hubungan dinamis jangka panjang antar pasar saham maju dan berkembang.

Bukti kajian empiris tentang korelasi jangka panjang diantara pasar saham berkembang dan pasar saham maju yang dilakukan oleh Masih dan Masih (1997, 1999, 2002), Arshanapalli, Doukas, dan Land (1995), dalam kajian mereka membuktikan bahwa hanya terdapat satu vektor kointegrasi diantara beberapa pasar utama Asia berkembang, (yaitu: Singapura, Hongkong, Korea, dan Taiwan) dan pasar saham maju utama. Studi Ghosh, et al. (1999) menemukan bahwa beberapa pasar saham Asia mempunyai keseimbangan hubungan jangka panjang dengan pasar saham maju, sementara beberapa yang lain tidak..

Kajian empiris Sharma dan Wongbangpo (2002) tentang korelasi pasar saham ASEAN-5 menggunakan teknik kointegrasi selama periode Januari 1986-Desember 1996. Hasil kajianya membuktikan bahwa terdapat kointegrasi jangka panjang antar pasar saham di negara-negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, kecuali Filipina. Kajian menarik dari penelitian ini adalah pasar saham Singapura dan Malaysia secara bersama-sama bergerak one for one dalam vektor terkointegrasi. Kemungkinan hal ini disebabkan karena korelasi perdagangan antar kedua negara tersebut kuat, geografis dan faktor budaya yang memiliki kesamaan. Melalui pendekatan Johansen Max-imum Likelihood dan teknik Hall Kalman Filter dan Haldane dalam menganalisis serta menguji pergerakan bersama (co-movement) beberapa pasar saham yang ada di ASEAN-5 dan pasar saham yang berada diluar kawasan yaitu Korea Selatan, Taiwán, Hongkong, Jepang dan AS. Manning (2002).

Data yang dianalisis yaitu indeks saham per minggu dan per kuartal pada mata uang dollar AS untuk periode Januari 1988 – Februari 1999. Temuannya membuktikan bahwa terdapat dua common trends dalam 8 (delapan) indeks pasar saham Asia yang dimodelkan, dan juga dalam model Johansen VAR terdapat dua common trends jika memasukkan pasar AS.

Analisis VAR yang digunakan oleh Rahim dan Nor (2007) untuk menguji struktur dinamis transmisi internasional dalam return saham ASEAN-5 plus Jepang, Korea dan Hongkong dengan menggunakan data indeks saham perbulan selama Januari 1986 sampai Desember 2006. Analisis tersebut memberikan kesimpulan yaitu: 1. Derajat interdependensi antara pasar saham nasional meningkat setelah terjadi krisis Asia pada tahun 1997. 2. Pasar saham negara Thailand memiliki peran penting dalam mempengaruhi pasar saham ASEAN-5+3. dan 3. Peranan negara Jepang terhadap pasar saham Asia yang lain meningkat secara subtansi setelah masa krisis.  Royfaizal et al (2008) melakukan penelitian terhadap interdependensi pasar saham ASEAN-5 plus Cina, Jepang, Korea dan AS selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 2007. Kurun waktu tersebut dibagi atas 3 (tiga) subperiode yang meliputi sebelum, saat dan sesudah krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Penggunaan datanya yaitu indeks harga saham perminggu dalam mata uang lokal. Melalui uji kointegrasi jumlah vektor terkointegrasi yang signifikan sepanjang periode masa krisis lebih banyak dari periode lain, sedangkan jumlah vektor yang terkointegrasi tidak mengalami perbedaan antara periode sebelum krisis dan sesudah. Berdasarkan Uji Granger kausalitas berdasar VECM membuktikan bahwa negara Thailand eksogen sementara negara Malaysia lebih endogen sebelum krisis dan sepanjang krisis. Sesudah krisis, negara AS lebih dominan dibandingkan negara-negara lain. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa, pasar AS dan ASEAN-5+3 dalam kondisi saling ketergantungan pada waktu sepanjang dan setelah krisis serta pengaruh pasar saham AS yaitu efektif terhadap pasar saham ASEAN-5+3 sebatas periode sebelum kerisis dan sepanjang krisis.

Pasar modal ASEAN yang terintegrasi, akan meningkatkan perannya dalam peningkatan pembangunan ekonomi negara-negara ASEAN. Liaw (2005) mengatakan, peran pasar modal ini penting, karena pasar modal merupakan sumber pendanaan jangka panjang bagi korporasi dan untuk memperoleh tambahan nilai keuntungan bagi investor. Bursa-bursa saham yang terintegrasi akan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan modal secara efisien. Sedangkan bagi para investor dapat menanamkan modalnya pada sekuritas atau investasi portofolio.

Pasar modal merupakan pasar perdagangan surat berharga (baik simpanan maupun hutang) dimana perusahan-perusahaan baik swasta maupun pemerintah dapat memperoleh dana jangka panjang. Pasar modal dapat juga didefinisikan sebagai pasar ekuitas dengan masa pengembalian pinjaman lebih dari satu tahun, berbeda dengan pasar surat berharga yang lain dengan masa pengembalian jangka pendek, yaitu kurang dari satu tahun seperti pasar uang (Jogiyanto, 2008). Pasar modal memfasilitasi dan menghubungkan pihak-pihak yang mempunyai dana lebih untuk menginvestasikan dana yang dimiliki dengan return yang lebih besar daripada menyimpan dananya di lembanga keuangan atau bank dan pihak yang membutuhkan dana untuk mengembangkan bisnisnya dengan sistem pengembalian jangka panjang. Berdasarkan konsep tersebut, menjadikan pasar modal memiliki peranan yang penting terkait pengembangan perekonomian di seluruh dunia.

Pasar modal dapat mendeskripsikan kondisi kesehatan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara, ketika kebijakan-kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi suatu negara baik pada sudut pandang investor, maka akan diimbangi dengan harga-harga saham yang akan naik atau meningkat dan kondisi ini mampu meningkatkan nilai indeks harga saham gabungan dari suatu negara. Kondisi sebaliknya, bila kondisi perekonomian sedang buruk, biasanya harga saham akan mengalami penurunan dan terpuruk. Berdasar peristiwa tersebut, akhirnya berbagai macam usaha dilakukan setiap negara untuk meminimalisasi risiko yang ada dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Usaha yang dilakukan salah satunya yaitu melakukan integrasi ekonomi terutama pasar modal yang memberikan gambaran kegiatan pasar yang sebenarnya terjadi. Integrasi pasar dapat terwujud jika dua pasar yang terpisah memiliki pergerakan indeks yang sama dan memiliki korelasi diantara pergerakan indeksnya (Click dan Plummer, 2003). Perubahan dan pergerakan ini disebabkan oleh berubahnya harga–harga saham individual. Pergerakan harga saham ini disebabkan oleh beberapa faktor yang memberi pengaruh, baik pengaruh secara langsung maupun pengaruh secara tidak langsung; sebagai contohnya adalah volume perdagangan saham, persepsi dari investor dan berbagai berita fundamental yang lain. Berdasarkan pada penelitian Chen dan Siems (2004), disimpulkan bahwa harga dari saham individual merefleksikan dari harapan para investor dan ketakutan terhadap kondisi yang akan datang, pergerakan harga saham dapat berupa gelombang naik turun yang selalu aktif.

Oleh karena itu, kejutan yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa di suatu negara dapat mengakibatkan volatilitas pergerakan harga saham di negara tersebut dan efeknya juga dapat dirasakan oleh negara-negara disekitarnya. Berdasarkan pada penelitian dari Karolyi and Stulz (1996) menemukan bahwa korelasi dan kovariansi dari pasar saham menjadi tinggi pada saat pasar mengalami banyak pergerakan. Hal ini akan semakin nampak pada saat pasar mengalami kejutan yang besar. Kejutan yang terjadi pada pasar ekuitas dapat berasal dari berbagai peristiwa, seperti krisis ekonomi, pergantian pemerintahan, kekacauan politik, bencana alam dan berbagai kejadian lain yang mempengaruhi kondisi perekonomian.

Berdasarkan penelitian Karolyi dan Stulz (1996) maka terintegrasinya pasar modal akan meningkatkan peran pasar modal dalam pembangunan ekonomi negara. Pentingnya peran pasar modal ini menurut Liaw (2005) karena pasar modal merupakan sumber pendanaan jangka panjang bagi korporasi dan untuk memperoleh keuntungan bagi investor. Terintegrasinya bursa-bursa saham akan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk memperoleh modal secara efisien. Sementara bagi investor dapat menanamkan modalnya pada sekuritas atau investasi portofolio. Sejauh mana pasar keuangan internasional terintegrasi, akan menjadi isu yang menarik bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar.

Integrasi ekonomi regional dapat digunakan sebagai alat politik untuk mengembangkan negara serta secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang ada. Dia juga menuliskan bahwa integrasi yang tercipta akan memberikan keuntungan bagi negara anggota dengan cara memberikan akses pasar terhadap negara lain, meminimalisasi risiko, menjadikan koordinasi peraturan semakin mudah dan mengurangi biaya pada industri yang ada. (Balassa, 1975;45)

Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi gerakan-gerakan regional Asia. Plummer dan Jones (2006) menyebutkan tujuh faktor yang mempengaruhi adanya tren gerakan regional di kawasan Asia Timur. Pertama adalah hubungan contagion (penularan) yang jelas. Kedua adalah adanya kesamaan nasib dalam menghadapi krisis. Ketiga adalah kurangnya perkembangan dari organisasi Asia Pacific Economy Cooperation (APEC) dalam mewujudkan terciptanya peningkatan kerjasama perdagangan dan keuangan serta pengembangan bersama dalam kerjasama pemberian bantuan antar negara. Keempat adalah tawaran dari Jepang agar bersikap pro aktif dalam menghadpi krisis di kawasan Asia. Kelima adalah keputusan Cina untuk tidak melakukan devaluasi dalam masa-masa krisis juga meningkatkan rasa solidaritas kawasan Asia Timur. Keenam adalah adanya keberhasilan New Miyazawa Plan yang diluncurkan pada tahun 1998 sebagai penyembuh krisis. Ketujuh adalah kebijakan yang diterapkan IMF untuk mengatasi krisis dianggap tidak sesuai. Mengakibatkan peningkatan kredibilitas bagi “pendekatan Asia” dalam mengatasi krisis. Pengamatan seberapa integrasi yang terjadi sebenarnya dapat dilakukan pada berbagai aspek ekonomi suatu negara. Namun pengamatan integrasi yang terjadi pada sektor pasar modal merupakan salah satu hal pokok yang perlu diperhatikan. Hal ini disebabkan karena dalam sepuluh tahun ini keuangan internasioanal dan pasar modal menjadi sangat terintergrasi. Ditiadakannya pembatasan arus modal, penggunaan floating exchange rates, peningkatan sistem komunikasi dan beberapa instrument baru lainnya yang memberikan kontribusi dalam proses integrasi. Deregulasi telah mendorong globalisasi dan integrasi yang pada saatnya menciptakan akses yang lebih baik dan sangat transparannya informasi dan harga. (Palac-McMiken, 1997;299).

Beberapa tahun terakhir banyak peneliti yang telah melakukan studi empiris terhadap integrasi pasar modal di ASEAN yang memberikan beberapa kesimpulan yang dapat dikembangkan lebih dalam. Dimulai dengan temuan oleh Click dan Plummer (2005) dengan menggunakan teknik time series kointegrasi untuk menguji adanya korelasi pada pasar ASEAN. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kelima negara ASEAN telah terintegrasi dalam perekonomian namun tida sepenuhnya tersegmentasi oleh perbatasan nasional.

Pendapat tersebut didukung oleh Mukherjee dan Mishra (2007) yang menguji comovement dari dua puluh tiga negara pasar saham. Negara yang berada pada satu daerah didapati lebih terkorelasi dibandingkan dengan negara yang berbeda daerah. Namun, dalam penelitiannya mengenai hubungan antara pasar modal Asia dengan US Siddiqui (2009) yang menggunakan korelasi Pearson menemukan bahwa persentase korelasi berkisar sedang hingga tinggi pada negara-negara tersebut kecuali Jepang yang menunjukan tingkat korelasi yang lebih kecil. Tidak ada pasar modal yang sangat mendominasi pasar modal lainnya dan pengaruh US terhadap pasar modal Asia tidaklah signifikan seperti temuan beberapa penelitian sebelumnya.

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, kondisi sistem perekonomian negara-negara di dunia yang semakin terbuka menyebabkan terjadinya perubahan yang akan mempengaruhi keragaman ekonomi domestik suatu negara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan regulasi pasar keuangan internasional dan tidak ketatnya capital control menyebabkan investor melakukan diversifikasi investasi secara domestik, antar negara atau secara internasional. Prinsip dasar diversifikasi internasional adalah “the broader the diversification, the more stable the returns and the more diffuse the risks” artinya investor yang melakukan diversifikasi memungkinkan untuk memaksimumkan return portofolio dengan suatu tingkat risiko tertentu atau meminimumkan risiko dengan return tertentu. Hal ini berarti, risiko adalah faktor penting ketika melakukan investasi.

Investor memahami jika pasar saham internasional mempunyai perbedaan karakteristik baik dari segi negara dan industri, sehingga tingkat resiko yang dihadapipun akan berbeda. Investor yang rasional selalu menginginkan tingkat return yang maksimal dari investasinya. Return yang cukup tinggi yang diperoleh pada saham disertai juga dengan tingkat risiko yang tinggi. Dalam saham, risiko terbagi menjadi dua, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis atau biasa juga disebut dengan risiko pasar dalah faktor risiko yang mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Jadi, pergerakan harga saham tertentu akan dipengaruhi oleh pergerakan bursa saham secara keseluruhan.

Risiko sistematis ini tidak dapat dikendalikan oleh investor, serta tidak dapat hilang melalui diversifikasi. Sementara itu, risiko tidak sistematis atau sering disebut juga specific risk, adalah risiko bahwa event tertentu yang terjadi pada perusahaan atau industrinya yang kemudian mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut. Investor dapat mengurangi risiko tidak sistematik dari suatu investasi saham dengan melakukan pembentukan portofolio saham.

Pembentukan portofolio di pasar internasional akan berdampak pada semakin baiknya tradeoff antara risiko dan return. Melakukan diversifikasi internasional, memungkinkan tergesernya efficient frontier (slopenya menjadi semakin besar) investasi menuju kombinasi risiko dan return yang lebih baik. Semakin terintegrasi dan berkembangnya pasar keuangan global dapat menyulitkan investor untuk memprediksi besarnya expected return dan risiko yang dihadapi. Beberapa isu baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kondisi suatu negara atau perusahaan, akan dengan cepat direspon oleh investor dan ini merupakan salah suatu sinyal negatif dari resiko penularan. Pengaruh negatif ini akan memberikan pengaruh pada stabilitas sektor keuangan internasional dan hal ini merupakan salah satu faktor risiko yang perlu untuk dipertimbangkan dalam melakukan investasi.

Teori portofolio mendeskripsikan bahwa diversifikasi mampu mengurangi risiko portofolio yaitu menghindari investasi pada aset-aset yang berkorelasi sempurna. Investor melakukan diversifikasi internasional dimotivasi untuk memperoleh expected return dan diharapkan bisa tercapai sehingga investor selalu mempertimbangkan besarnya risiko yang diterima. Nilai aset-aset internasional sering kurang berkorelasi dan ditentukan oleh berbagai faktor fundamental ekonomi suatu negara yang terkait. Korelasi antar pasar modal luar negeri merupakan salah satu indikator utama dari keuntungan yang bisa didapatkan oleh diversifikasi antar berbagai kelas aset antar negara. Biasanya, negara maju dengan perekonomian yang tentunya lebih maju mempunyai keterkaitan yang cukup erat pada perdagangan antar negara dan cenderung memiliki tingkat korelasi yang lebih tinggi dengan perekonomian dunia.

Konsep dari teori keuangan internasional mendeskripsikan bahwa pasar yang tersegmentasi akan memberikan dampak positif bagi nilai portofolio internasional. Investor dapat meminimalkan risiko dengan melakukan diversifikasi sehingga risiko-risiko investasi akan menyebar ke berbagai negara yang berbeda dan investor dapat juga meminimalkan efek negatif dari volatalitas pasar serta untuk jangka panjang akan meningkatkan return. Studi Grauer dan Hakansson (1987) menyatakan bahwa risiko investasi portofolio internasional dapat dikurangi dengan memasukkan aset asing ke dalam investasi portofolio suatu negara. Faktor utama yang menentukan keuntungan diversifikasi internasional adalah suku bunga dan country risk. Suku bunga merupakan risiko yang dimiliki suatu negara, risiko yang dimaksud`adalah risiko dalam investasi. Semakin tinggi suku bunga maka akan menyebabkan semakin tinggi masuknya aliran modal asing ke dalam negeri.

Melalui perkembangan saham domestik dan saham internasional yang berbeda, perkembangan bursa saham antara negara satu dengan lainnya tidak sama, sehingga investor harus melakukan diversifikasi, baik dipasar modal domestik maupun internasional.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s