Keistimewaan Ekonomi Islam


Islam adalah agama rahmat dan keadilan dalam semua kehidupan. Termasuk dalam aspek ekonomi, Islam adalah jawaban dari semua krisis ekonomi yang terjadi.

Jika kehidupan umat Islam masih jauh dari Islam itu sendiri, maka Allah akan menimpakan kehinaan dan rasa kemiskinan kepadanya. Hal ni sebagaimana sabda Nabi SAW: “Jika kalian jual beli dengan sistem ‘inah (riba)…Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut sampai kalain kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Dawud 3462, ash Shahiihah 11)

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi berkata, “Al-Qur’an telah menjelaskan kaidah-kaidah dalam masalah ekonomi, sebab perekonomian itu kembali kepada dua permasalahan:

Pintar dalam mencari harta
Allah SWT telah membuka lebar-lebar segala pintu untuk mencari harta selagi tidak melanggar agama. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠﴾

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. al-Jumu’ah [62]: 10)

Pintar dalam membelanjakan harta
Allah SWT telah memerintahkan untuk hemat dan tidak boros dalam membelanjakan harta. Allah SWT berfirman menyifati hamba-hamba-Nya yang beriman:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَ‌ٰلِكَ قَوَامًۭا ﴿٦٧﴾

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqan [25]: 67)[11]

Sistim ekonomi Islam adalah solusi untuk memajukan perekonomian. Diantara keistimewaan ekonomi islam ialah:

1. Asas perekonomian Islam dibangun diatas beberapa pondasi:
Keadilan
Urusan manusia akan langgeng di dunia ini selama keadilan masih ditegakkan. Adil dalam darah, harta, nasab dan kehormatan. Oleh karena itu, negeri yang adil akan tegak sekalipun penduduknya kafir dan tidak mendapat bagian di akhirat, sebaliknya negeri muslim tidak akan tegak jika penuh dengan kezaliman. (Mabaadi’ al-Iqtishaad al-Islaamiyyah hlm. 35)

Kejujuran
Kejujuran adalah asas semua kebaikan, sedangkan kedustaan adalah asas dan penopang semua kejelekan (Majmuu’ Fataawaa 20/74,75)

Kesabaran
Sabar dalam melaksanakan amalan yang baik dan meninggalkan semua yang dilarang, termasuk sabar terhadap semua ganguan dan cobaan.

Keberaniaan
Keberanian yang dimaksud disini bukanlah kekuatan badan, tetapi kuat dan tegarnya hati, termasuk berjihad dengan harta di jalan Allah. (al-Hisbah 106)

2.  Perbankan islami bertujuan agar kaum muslimin dan semua manusia secara umum mendapatkan penghidupan yang halal, maju dan sejahtera. Perbedaan asasi dari perbankan islami dan ribawi (konvensional. red) adalah:
Bahwasanya perbankan islami dialah sebenarnya pelaku usaha. Dialah pedagang, petani, penambang, yang memproduksi barang atau usaha halal lainnya. Dana dari nasabah yang menitipkan uangnya untuk dikelola oleh bank sebagai pelaku usaha akan dinikmati bersama, dan jika rugi kedua belah pihak pun sama-sama rugi. Ini tentunya adil karena pihak perbankan terjun langsung kedunia usaha bermodal keahlian, sedangkan nasabah bermodal uang dan tidak ikut capek mengelola usaha. Berbeda dengan perbankan ribawi, dimana mereka sekadar “memutar” uang nasabah saja dan bertindak sebagai “makelar” antara nasabah dengan podusen (pelaku usaha) dengan balas jasa dalam bentuk bunga kepada nasabah. Sebagai contoh: jika orang ingin kredit KPR atau mobil, maka ia harus berhubungan dengan Bank. Kenapa? Karena pihak developer atau dealer telah mengadakan kesepakatan dengan bank agar keuntungannya lebih banyak.[1] Lalu pihak bank sebagai apa dalam sistem ini? Hanya sebagai wakil dari nasabah. Dia bukan pelaku usaha yang terjun langsung dan bukan pula penyandang modal. Ironisnya lagi, jika terjadi krisis, mereka tidak mau rugi…! yang menelan pahit adalah nasabah karena uang tidak bisa kembali utuh. Berbeda dengn bank islami. Oleh karena itulah mereka terjatuh pada tiga larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: memperjual belikan sesuatu yang tidak dimiliki, adanya dua transaksi dalam satu jual beli, dan menerapkan sistem bunga (riba)

3.  Dalam bermuamalah, umat Islam tidak hanya mengejar keuntungan materi semata
Tatkala mereka harus berhadapan dengan orang butuh bantuan, maka yang harus dikedepankan adalah keuntungan ukhrawi, yaitu surga, tampa ada tujuan mengharapkan lebih dari itu. Oleh karena itu, lembaga finansial[2] yang bergerak memberikan pinjaman kepada para petani, pedagang dan lain-lain yang tidak punya modal dengan menerapkan sistem bunga, maka justru merekalah rentenir. Adapun dalam Islam, maka tidak diperbolehkan mensyaratkan adanya bunga.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ Allah senantiasa akan menolong seseorang selama orang tersebut menolong saudaranya” (HR. Muslim 1888)

Adapun jika si peminjam mengembalikan lebih sesuai kehendaknya sendiri, maka itulah yang afdhal dan lebih dianjurkan.

4.  Untuk mendapatkan kesempatan mewujudkan kesejahteraan individu dan masyarakat, Islam mengatur sistem ta’awun (kerja sama) syari.

5. Tatkala manusia dijadikan ada yang kaya dan ada yang miskin, maka di sana ada maslahat yang tidak akan bisa sempurna kecuali dengan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin.
Oleh karena itu, islam mensyariatkan zakat untuk menutup kefakiran mereka dan mengharamkan riba yang menyusahkan mereka. Dan zakat ini tidaklah dikeluarkan kecuali dari harta yang berkembang saja

6.  Islam melarang semua jual beli yang di dalamnya ada unsur penipuan, spekulasi dan riba.

Sumber: Majalah Al-Mawaddah vol. 42 Edisi Khusus Sya’ban – Ramadhan 1432H :: Juli-Agustus 2011M.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: