AGENCY THEORY


Teori keagenan (agency theory) dikembangkan di tahun 1970-an terutama pada tulisan Jensen dan Meckling (1976) pada tulisan yang berjudul “Theory of the firm: Managerial behavior, agency costs, and ownership structure”. Konsep-konsep teori keagenan di latarbelakangi oleh berbagai teori sebelumnya seperti teori konsep biaya transaksi (Coase, 1937), teori property right (Berle dan Means,  1932), dan filsafat utilitarisme (Ross, 1973). Teori keagenan dibangun sebagai upaya untuk memecahkan memahami dan memecahkan masalah yang muncul manakala ada ketidaklengkapan informasi pada saat melakukan kontrak (perikatan).

Teori keagenan berkaitan dengan penyelesaikan dua masalah yang dapat terjadi dalam hubungan keagenan. Yang pertama adalah masalah keagenan yang muncul ketika (a) keinginan atau tujuan dari prinsipal dan konflik agen dan (b) sulit atau mahal untuk prinsipal untuk memverifikasi apa yang agen yang kakukan. Masalahnya di sini adalah bahwa prinsipal tidak dapat memverifikasi bahwa agen telah berperilaku tepat. Yang kedua adalah masalah pembagian risiko yang muncul ketika prinsipal dan agen memiliki sikap yang berbeda terhadap risiko. Masalahnya di sini adalah bahwa prinsip dan agen dapat memilih tindakan yang berbeda karena preferensi risiko yang berbeda.

Konsep teori agensi didasarkan pada permasalahan agensi yang muncul ketika pengurusan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikannya.

Masalah keagenan yang timbul pada saat :

  • Keinginan/tujuan dari prinsipal dan agen berlawanan
  • Merupakan hal yang sulit/mahal bagi prinsipal untuk melakukan verifikasi tentang yang telah benar-benar dilakukan.

Masalah pembagian resiko yang timbul pada saat memiliki sikap yang berbeda terhadap resiko.

Problem keagenan antara pemegang saham (pemilik perusahaan) dg manajer potensial terjadi bila manajemen tidak memiliki saham mayoritas perusahaan.

Pemegang saham tentu menginginkan manajer bekerja dg tujuan memaksimumkan pemegang saham.

Sebaliknya manajer perusahaan bisa saja bertindak tidak untul memakmurkan kemakmuran pemegang saham, tetap memaksimumkan kemakmuran mereka sendiri.

Terjadilah Conflict of Interest. untuk menyakinkan bahwa manajer bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan pemegang saham, pemegang saham harus mengeluarkan biaya yg disebut Agency Cost yg meliputi

  • Pengeluaran untuk memonitor kegiatan manajer,
  • Pengeluaran membuat suatu struktur organisasi yg meminimalkan tindakan manajer yg tdk diinginkan, serta opportunity cost yg timbul akibat kondisi dimana manajer tdk dpt segera mengambil keputusan tanpa persetujuan pemegang saham.

Pengawasan secara total terhadap kegiatan para manajer akan memecahkan masalah keagenan, tetapi dibutuhkan biaya yg mahal Dan kurang efisien.

Selain itu, agency problem antara pemegang saham dg manajemen perusahaan dapat terjadi karena :

– Kekhawatiran untuk di-PHK krn kinerja yg dinilai krg memuaskan

– Ketakutan mengalami kondisi dimana perusahaan diambil alih scr paksa oleh pihak lain.

Agency problem jg muncul antara kreditor, misal pemegang saham perusahaan dg pemegang saham (stockholder) yg diwakili manajemen perusahaan. jika :

– Manajemen mengambil proyek yg risikonya lebih besar daripada perkiraan oleh kreditor

– Perusahaan meningkatkan jumlah hutang sehingga mencapai tingkatan yg lebih tinggi daripada yg diperkirakan kreditor.

Kedua tindakan diatas akan meningkatkan risiko finansial perusahaan, selanjutnya akan menurunkan nilai pasar uang/obligasi perusahaan yg belum jatuh tempo.

– Agency problem antara pemegang saham dengan manajemen perusahaan dapat diantisipasi dengan.

  • Monitoring : Pengawasan tindakan dan kebijakan, dalam bentuk:
  • Dewan komisaris yang independen dari pihak manajemen
  • Pasar Corporate control (Internal & Eksternal)
  • Institusi keuangan.
  • Pembatasan (bonding) : Pengendalian tindakan dan kebijakan
  • Jensen dengan memperkecil jumlah free cash flows sehingga peluang manajer dalam memperkaya diri semakin terbatas.
  • Peningkatan kepemilikan manajer, tetapi tetap dalam batasan.

Kompensasi diberikan kepada manajer agar manajer dapat melaksakan apa yang diharap oleh pemilik.

Kompesasi diberikan akan meningkatkan nilai perusahaan, jika perusahan sudah go public maka nilai saham akan meningkat.

Bentuk kompensasi yang diberikan kepada manajer adalah gaji pokok, insentif, fee, kepemilikan dalam bentuk saham.

Research Area : Economic / Finance / Strategic Management

Referensi Utama :

Eisenhardt, K. M. (1985). Control: Organizational and economic approaches. Management Science (Pre-1986), 31(2), 134.

Eisenhardt, M, K. (1989). Agency theory: An assessment and review. Academy of Management Review, 14(1), 57).

Jensen, M., and Meckling, W. 1976. Theory of the firm: Managerial behavior, agency costs, and ownership structure. Journal of Financial Economics, 3: 305-360.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: