STRATEGI PENINGKATAN KEWIRAUSAHAAN BAGI MAHASISWA DI PENDIDIKAN TINGGI


Kaprodi STIE

STRATEGI PENINGKATAN KEWIRAUSAHAAN BAGI MAHASISWA DI PENDIDIKAN TINGGI

ABSTRACT

Universities on the creation of labor gave the significant role, so the effect on the increasing numbers of workers. If the number of workers and jobs are not balanced, then the unemployment and economic inequality will become an increasingly urgent problem to be resolved. The number of entrepreneurs in a region that is minimal, describes the low competitiveness owned. In supporting the emergence of high competitiveness, function and the role of educators to be more active in providing motivation for learners to become entrepreneurs is indispensable. College as one of the means and facilitating role in shaping the young generation has an obligation to train and motivate the students to give to become savvy generation, independent, creative, innovative and able to create business opportunities. Thus, every college immediately towards sole discretion to balance between higher education research institutions with entrepreneurs forming institutions. Alumni are required to be innovative and creative in terms of their personal development through the creation of level playing field, so that future expected with extensive job creation, economic growth in the region will increase.

Keywords: educators, labor, entrepreneurial

 

ABSTRAK

Perguruan tinggi pada penciptaan tenaga kerja meberikan peran yang cukup signifikan, sehingga berpengaruh pada meningkatnya angka jumlah tenaga kerja. Jika antara jumlah tenaga dan lapangan kerja tidak seimbang, maka pengangguran dan ketimpangan ekonomi akan menjadi permasalahan yang semakin mendesak untuk segera diselesaikan. Jumlah pengusaha disuatu wilayah yang minim, menggambarkan rendahnya daya saing yang dimiliki. Dalam menunjang munculnya daya saing yang tinggi, fungsi serta peran pendidik untuk lebih aktif dalam memberikan motivasi menjadi pengusaha bagi peserta didiknya sangat diperlukan. Perguruan tinggi sebagai salah satu sarana dan pemberi fasilitas dalam membentuk generasi muda mempunyai kewajiban dalam melatih dan memberi memotivasi kepada mahasiswanya sehingga menjadi generasi cerdas, mandiri, kreatif, inovatif dan mampu membuat peluang usaha. Maka, setiap perguruan tinggi segera menyeimbangkan arah kebijakanya antara lembaga riset pendidikan tinggi dengan lembaga pembentuk wirausahawan. Alumni dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam hal pengembangan diri mereka melalui pembuatan lapangan usaha, sehingga kedepan diharapkan dengan terciptanya lapangan pekerjaan yang luas maka pertumbuhan ekonomi di daerah akan ikut meningkat.

Kata Kunci: Pendidik, Tenaga kerja, Wirausaha.

 

 A. Pendahuluan.

Kewirausahaan adalah proses dinamik untuk menciptakan tambahan kemakmuran (Buchari Alma, 2011:33). Istilah kewirausahaan  berasal dari  terjemahan “Entrepreneurship”, Menurut Thomas W. Zimmerer, Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk usaha baru.

Kata “Wirausaha” merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris entrepreneur, yang artinya adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat dan menilai kesempatan peluang bisnis. J. B. Say menggambarkan pengusaha sebagai orang yang mampu memindahkan sumber-sumber ekonomi dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat produktivitas tinggi karena mampu menghasilkan produk yang lebih banyak.

Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Menurut dari segi etimologi (asal usul kata). Wira, artinya pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, gagah berani, berjiwa besar, dan berwatak agung. Usaha, artinya perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi, wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Wirausaha dapat mengumpulkan sumber daya yang di butuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya, dan mengambil tindakan yang tepat guna untuk memastikan keberhasilan usahanya. Wirausaha ini bukan faktor keturunan atau bakat, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan.

Fungsi dan peran adanya wirausaha dalam menentukan perkembangan dan kemajuan suatu bangsa telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti Amerika, Jepang, juga tetangga terdekat Indonesia yaitu Malaysia dan Singapura. Di negara Amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12% penduduknya menjadi pengusaha dan banyak terlibat langsung dalam kegiatan wirausaha. Hal itulah yang menjadikan negara Amerika sebagai negara yang terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Kemudian negara Jepang lebih dari 10% warganya sebagai pelaku wirausaha dan lebih dari 240 perusahaan Jepang skala kecil, menengah dan besar berdiri di wilayah Indonesia. Padahal negara Jepang mempunyai luas wilayah yang kecil dan memiliki sumber daya alam yang masih kurang mendukung namun dengan tekad dan semangat serta jiwa wirausahanya yang menjadikan negara Matahari tersebut sebagai salah satu negara terkaya di benua Asia dalam bidang iptek dan perekonomianya.

Melihat beberapa jumlah pengusaha negara tetangga yang satu rumpun dengan indonesia yaitu Singapura dan Malaysia, beberapa bukti menyebutkan lebih dari 7.2% pengusaha Singapura dan lebih dari 3% pengusaha Malaysia, menjadikan pertumbuhan dalam berbagai bidang terutama pertumbuhan ekonomi semakin memperluas jarak meninggalkan  Indonesia. Negara ini hanya memiliki 0.18 % pengusaha atau kurang dari 1% dari jumlah penduduk saat ini. Menurut sosiolog David McCleiland, sedikitnya dibutuhkan minimal 2 persen wirausaha dari populasi penduduknya, atau dibutuhkan sekitar 4,8 juta wirausaha di Indonesia saat ini untuk membangun ekonomi bangsa, menjadi bangsa yang maju. Menurut Ciputra juga mengatakan, setidaknya dibutuhkan minimal 2% pengusaha untuk menjadikan bangsa ini bangkit dari ketertinggalan dari bangsa lain yang lebih maju.

Perguruan tinggi MIT (Massachusette Institute Technology) yang berada di Amerika, tahun 1980-1996 disaat pengangguran terpelajar semakin meluas dan kondisi perekonomian, sosial politik yang kurang stabil, MIT merubah strategi dan arah kebijakan perguruan tingginya yang semula high Learning Institute and Research University berubah menjadi Entrepreneurial University. Dengan perubahan itu, meskipun terjadi banyak pro dan kontra, selama kurun waktu lebih dari 16 tahun, MIT dapat mewujudkan dan membuktikan alumni-alumni yang dihasilkan mampu memunculkan 4 ribu perusahaan, dan mampu merekrut 1.1 juta tenaga kerja dan omset yang diperoleh sebesar 232 miliar dolar pertahun. Tentunyan ini sebuah prestasi dan pencapaian yang luar biasa yang mampu berperan dalam mewujudkan kondisi Amerika menjadi negara maju dan mempunyai pengaruh besar di dunia. Strategi dan kebijakan inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses lainya.

 

B. Upaya Meningkatkan Kewirausahaan pada Perguruan Tinggi 

Melihat pada keberhasilan yang telah dicapai oleh beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa yang rata-rata seluruh lembaga perguruan tinggi yang ada telah berupaya menyisipkan materi kewirausahaan disetiap program studi, bahkan pada setiap mata kuliahnya. Sedangkan di negara-negara asia seperti Jepang, Singapura dan Malaysia juga menerapkan materi-materi kewirausahaan minimal didua semester. Hal itulah yang membentuk dan menjadikan negara-negara tetangga tersebut menjadi negara maju dan pembangunan negaranya dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan negara Indonesia.

Di negara kita Indonesia, usaha dalam menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan bagi mahasiswa di perguruan tinggi terus digalakan dan ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Bahkan pada tingkat pemerintah melalui Kementrian Koordinator Perekonomian telah memberikan peraturan kepada seluruh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi diwajibkan untuk memberikan mata pelajaran atau mata kuliah Kewirausahaan tersebut. Ada beberapa usaha atau teknik yang perlu diterapkan dalam meningkatkan minat dan kegiatan kewirausahaan bagi para peserta didik, yaitu:

  1. Pembentukan Pusat studi kewirusahaan Kampus, seperti:
  2. Koperasi Mahasiswa (KOPMA) di UMY
  3. Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA) ITB,
  4. Community Entrepreneur Program (CEP) UGM,
  5. Center for Entrepreneurship Development & Studies (CEDS) di UI,
  6. BSI Entrepreneruship Center (BEC) di BSI,
  7. Center for Entrepreneurship, Change, & Third Sector (CECT) di Univ. Tri Sakti,

Melalui media pembentukan pusat kewirausahaan kampus tersebut, akan banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan seperti: Seminar, Pelatihan, Loka karya, Praktek usaha, kerjasama usaha, dll.

  1. Menganggap penting kewirausahaan dikampus dan menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai hal yang harus diberikan kepada mahasiswa, materi kewirausahaan tidak sebatas formalitas, sehingga harus di design materi dan metode dalam pembelajarannya.
  2. Memaksimalkan dalam memanfaatkan Program kewirausahaan yang digagas oleh lembaga pemerintah, seperti: pendidikan tinggi (Dikti) melalui Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti dan disampaikan kepada para PTS melalui Kopertis. Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas bagi Mahasiswa yang di fasilitasi oleh Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans). Dan Program Pemberian Modal  Usaha Untuk Mahasiswa yang diberikan oleh Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM).
  3. Menyertakan mahasiswa dalam Program Wirausaha untuk Mahasiswa yang difasilitasi oleh lembaga-lembaga keuangan.

Hal-hal seperti inilah yang idealnya terus dikembangkan oleh lembaga pendidikan terlebih lagi pemerintah, yakni memaksimalkan dalam menambah jumlah wirausaha yang berasal dari kaum muda dan terdidik sebagai bentuk dari pemberlakuan mata kuliah kewirausaan di tingkat pemdidikan tinggi.

 

C. Strategi Peningkatan Kewirausahaan bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi

Upaya peningkatan gema kewirausahaan di perguruan tinggi, sangat terkait dengan elemen yang berperan di dalamnya, tenaga pendidik misalnya, yang paling dekat dan konsen menangani kewirausahaan di perguruan tinggi. Bukti nyata kebijakan pemerintah ini adalah dengan memasukkan mata kuliah Kewirausahaan dalam kurikulum pembelajaran, khususnya di tingkat perguruan tinggi, dimana tingkatan ini merupakan tahap akhir sebelum para mahasiswa memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Banyaknya pengangguran serta kurangnya minat berwirausaha menjadi autokritik terhadap peran dari perguruan tinggi. perguruan tinggi memiliki peran yang besar dan memiliki peluang untuk menanamkan sikap mental kewirausahaan sehingga lulusannya tidak hanya ahli pada suatu bidang akademi namun juga mampu melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang siap menjadi pahlawan ekonomi.

Sebuah konsep yang sederhana dan bukan sesuatu hal yang baru, namun layak untuk dicoba diaplikasikan oleh perguruan tinggi dalam menumbuhkan semangat wirausaha, yaitu:

  • Menyediakan tenaga pendidik atau Dosen yang konsen dan memiliki jiwa wirausaha.

Selama ini penyediaan dosen hanya sebatas pada linearitas keilmuan yang dimiliki dengan program studi yang ada di perguruan tinggi tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan dalam proses pembelajaran nilai-nilai jiwa wirausaha belum tergambar dan terwujud dalam praktiknya.

Setidaknya selain linearitas dalam menyiapkan dosen atau tenaga pendidik, perguruan tinggi harus mempersiapkan tenaga pendidik atau Dosen yang mampu melakukan hal-hal sebagai berikut, yaitu:

  1. Memberikan paradigma baru tentang pentingnya kewirausahaan.
  2. Menginspirasi dan memotivasi  mahasiswa menjadi SDM yang mandiri.
  3. Merubah atau mengarahkan pola pikir mahasiswa menjadi seorang yang berjiwa wirausaha.
  4. Memberikan contoh karya nyata kewirausahaan dan menyuguhkan cerita sukses.
  5. Menghasilkan mahasiswa atau alumni menjadi seorang wirausaha sukses.

Program peningkatan Dosen sebagai tenaga pendidik ini dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara, diantaranya sebagai berikut:

  1. Program pelatihan kewirausahaan untuk tenaga pendidik,
  2. Program seminar, workshop, lokakarya kewirausahaan.
  3. Program pemagangan dosen di dunia usaha,
  4. Program sarasehan dengan mitra usaha,
  5. Program pembinaan dan pendampingan dosen baru.

Dengan program tersebut, tentunya setiap dosen  tidak hanya sekedar mengajar kewirausahaan saja, tetapi mampu mewujudkan dan merealisasikan apa yang telah diberikan kepada mahasiswa pada saat mengajar.

 

  • Mengembangkan Kurikulum Berbasis Wirausaha.

Merumuskan sistem atau metode pembelajaran dan pelatihan kewirusahaan, perguruan tinggi harus mendesign mata kuliah atau materi kewirausahaan untuk mahasiswanya disesuaikan dengan target yang akan dicapai. Diawali dari pembuatan konsep pembelajaran yang harus dipantau oleh bidang akademik, yaitu: Silabus, satuan acara pengajaran (SAP), Slide Presentasi dan handout, modul teori, modul praktek, pembuatan buku panduan, sampai pada program kunjungan dan pengamatan langsung ke tempat usaha yang layak untuk dijadikan tempat observasi, dll.

Rumusan tersebut harus dikerjakan oleh sebuah tim yang ahli dibidang keilmuanya. Hal yang perlu diperhatikan oleh perguruan tinggi dalam merumuskan kurikulum ini adalah harus memaksimalkan dalam mengikutsertakan akademisi dan pelaku usaha serta motivator wirausaha dalam team penyusun, sehingga mata kuliah atau materi yang diberikan lebih berkualitas. Ini penting dilakukan karena kolaborasi antara akademisi, praktisi dan motivator akan menghasilkan konsep dan gagasan kewirausahaan yang  tepat dan sesuai untuk mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan. Menyusun kurikulum kewirausahaan, tidak serta merta menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah tersendiri, namun akan lebih memberikan pengaruh yang besar jika, muatan nilai-nilai kewirausahaan ini dimasukan kedalam setiap mata kuliah.

  • Membentuk Pusat Kegiatan Kewirausahaan.

Kegiatan tersebut baik institusi kampus ataupun berupa organisasi kemahasiswaan. Beberapa perguruan tinggi yang telah eksis mengelola berbagai kegiatan dibidang kewirusahaan mahasiswa layak untuk ditiru. Dengan menjadikan keberhasilan lembaga pendidikan tinggi lain sebagai acuan, akan membuat kebijakan yang diberikan menjadi lebih mudah untuk diaplikasikan. Perguruan tinggi-perguruan tinggi yang telah membuktikan keberhasilanya, memberikan gambaran bahwa lembaga tersebut telah memahami betul tentang pentingnya kewirausahaan sebagai solusi smart mahasiswanya menjadi seorang wirausaha muda dan terdidik.

 

Membentuk beberapa unit usaha yang dikelola oleh mahasiswa merupakan salah satu kesungguhan perguruan tinggi dalam mewujudkan mahasiswanya untuk menjadi seorang wirausaha, apapun jenis usahanya tentunya harus sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan institusi kampus. Unit kegiatan mahasiswa usaha yang dibentuk ini dapat dijadikan sebagai salah satu pengalaman berharga bagi mahasiswa sebelum terjun membuka usaha secara mandiri ketika nanti menjadi alumni.

 

  • Menjalin Kerjasama dengan Lembaga Usaha.

Kerjasama ini penting dilakukan oleh perguruan tinggi, dengan adanya kerja sama akan meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa, memberikan kesempatan magang usaha bagi dosen dan mahasiswa, serta memberikan kesempatan kerjasama usaha khususnya untuk mahasiswa atau alumni. Sehingga mahasiswa dapat menganalisa dan mengamati bentuk usaha nyata yang pada akhirnya akan mempunyai gambaran ketika kelak lulus dan berencana mewujudkan keinginanya untuk berwirausaha.

 

  • Kerjasama dengan Lembaga Keuangan.

Mewujudkan mahasiswa atau alumni sebagai seorang wirausaha, perguruan tinggi harus memberikan fasilitas dan kemudahan bagi mahasiswanya dalam membuka usaha,  salah satunya dengan cara menjadi fasilitator dan mediator antara mahasiswa dengan lembaga keuangan dalam hal kemudahan kredit usaha bagi mahasiswa ketika berkeinginan untuk melakukan wurausaha. Kerjasama ini dapat menjadi  kesempatan bagi mahasiswa untuk mewujudkan menjadi wirausahawan muda. Pada umumnya mahasiswa ketika memiliki keinginan untuk berwirusaha terkendala dengan modal dana. Kerjasama inilah yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi.

  • Membuat kebijakan harus sudah memiliki usaha sebagai syarat kelulusan mahasiswa.

Salah satu pemicu meningkatnya semangat kewirusahaan dari mahasiswa adalah dengan dibuatnya kebijakan syarat kelulusan, selain masa studi, indeks prestasi, dan syarat-syarat lain, syarat harus sudah memiliki usaha sepertinya layak untuk diterapkan oleh perguruan tinggi.

 

Dari beberapa strategi tersebut, jika diimplementasikan oleh perguruan tinggi dengan serius dan sungguh-sungguh  maka dapat dimungkinkan akan banyak muncul wirausahawan sukses yang berasal dari tenaga muda terdidik di negeri ini, yang dapat berperan dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan dan  pergerakan aktivitas ekonomi lokal sehingga akan terbentuk peluang dan kesempatan pekerjaan yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah pengangguran.

D. Kesimpulan

Perguruan tinggi sebagai salah satu sarana dan pemberi fasilitas dalam membentuk generasi muda mempunyai kewajiban dalam melatih dan memberi memotivasi kepada mahasiswanya sehingga menjadi generasi cerdas, mandiri, kreatif, inovatif dan mampu membuat berbagai peluang usaha. Maka dari itu, setiap perguruan tinggi segera menyeimbangkan arah kebijakan perguruan tingginya antara lembaga riset pendidikan tinggi dengan lembaga pembentuk pengusaha.

Membentuk wirausaha muda diperlukan kesungguhan dan keseriusan dari perguruan tinggi dalam mengemban misi kampus pencetak wurausahawan. Program-program kewirausahaan yang telah digagas dan dijalankan oleh berbagai perguruan tinggi khususnya di Indonesia, patut kiranya dijadikan sebagai teladan dalam memulai mewujudkan strategi perguruan tinggi dalam melahirkan wirausaha muda dan terdidik.

 

 


Daftar referensi:

 

Alma, Buchori, 2011, Kewirausahaan, Alfa Beta, Bandung.

Amin Wijaya Tunggal, 2009, Pokok-pokok Manajemen Kewirausahaan, Harvarindo, Jakarta.

Heijrahman R. Pandoyo, 1982, Wiraswasta Indonesia, BPFE, Yogyakarta.

Hisrih, Robert D, 1995, Entrepreneurship, Irwin, Chichago.

Hisrich, Robert D. Michael P. Peters, Dean A. Sepherd, 2008, Interpreneurship (Kewirausahaan), Salemba Empat, Jakarta.

Longeuccher, Justin G, Kewirausahaan I,II, Salemba Empat, Jakarta, 2001.

Marbun BW, 1993, Kekuatan dan Kelemahan Usaha Kecil Menengah, PT. Binaman, Jakarta.

Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.

Wirakusumo, Soeharto, 1997, Peranan perguruan tinggi dalam menciptakan wirausaha-wirausaha tangguh, Makalah Seminar, Jatinangor: PIBI-IKOPIN.

Kuswara Heri, 2011, Artikel berjudul “Strategi Sukses menjadi Wirausaha Muda”, terbit pada Majalah Entrepreneur Kampus BSI yaitu. BEN (BSI Entrepreneur News) Vol.04. No.02/2011.

Kuswara Heri, Artikel berjudul “Mewujudkan Entrepreneurial Campus adalah sebuah Keharusan”, terdapat pada situs: http://www.dikti.go.id

“Memahami Karakteristik Kewirausahaan” dalam http://viewcomputer.wordpress.com.

“Peranan Matakuliah Kewirausahaan” dalam http://www.ekonomi.kompasiana.com.

“Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa” dalam http://www.technopreuner-studentwelfare.its.ac.id

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: