Karakteristik Studi S3


PPM

Studi S3 itu identik dengan riset. Tidak ada program S3 tanpa riset. Sayangnya riset adalah sesuatu yang kadang tidak dimengerti dengan baik oleh calon mahasiswa S3, sehingga kinerja mereka tidak maksimal. Sebelum menempuh pendidikan S3, sebaiknya calon mahasiswa memahami dulu tentang dunia yang akan mereka hadapi, agar bisa menyiapkan diri dengan baik.

Menjadi Mahasiswa S3

Masa studi pada jenjang S3 tidak terlalu berbeda dengan masa studi jenjang S1, tapi mahasiswa S3 menghadapi tantangan yang amat berbeda dibandingkan dengan mahasiswa S1. Mahasiswa S1 yang diterima di sebuah program studi tertentu biasanya memiliki cukup informasi untuk memahami tentang arah dan substansi yang akan dipelajarinya. Ada pemahaman umum tentang bidang studi yang bersangkutan, ada buku panduan akademik yang berisi informasi-informasi resmi tentang program studi tersebut, serta sumber-sumber informal lain seperti dosen atau teman kuliah. Sebaliknya, begitu diterima pada program S3, seorang mahasiswa dihadapkan pada ketidakjelasan tentang apa yang harus ia lakukan. Ia harus menjawab banyak pertanyaan tentang riset yang akan dijalaninya: domain dan lingkupnya, persoalan yang harus diselesaikan, metodologinya, dan sebagainya. Tidak ada jawaban yang pasti untuk semua pertanyaan itu, dan tidak ada orang lain yang bisa membantu mencarikan jawaban. Mahasiswa harus mencari jawabannya sendiri sepanjang studinya, dan inilah yang membuat tantangan pada program S3 jauh lebih berat dibandingkan dengan pada program S1.

Mahasiswa S3 juga dituntut memiliki tanggung jawab lebih besar. Studi yang dilakukannya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri seperti halnya mahasiswa S1, tapi harus berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang yang ditekuninya. Untuk itu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mahasiswa S3.

Pertama, seorang calon doktor harus punya kecintaan dan passion terhadap bidang ilmu dan topik riset yang ditekuninya. Selama 3 tahun (sering kali lebih) masa studinya, mahasiswa akan bergelut dan berjuang keras dengan topik risetnya. Perjuangan dalam masa yang cukup panjang ini tidak akan bisa dimenangkan jika tidak ada dorongan internal dari dalam diri mahasiswa. Tanpa motivasi internal, seseorang tidak akan tahan berkutat dengan ketidakjelasan, kebuntuan, rasa frustrasi, kelelahan, dan berbagai perasaan negatif lainnya yang sering muncul dalam kurun waktu studinya.

Kecintaan dan passion adalah buah dari sebuah relasi yang berlangsung cukup lama dan intensif. Keduanya muncul sebagai akibat dari rasa ketertarikan seseorang terhadap sesuatu dan terpenuhinya harapan-harapan yang timbul selama interaksi berlangsung. Masalah rasa seperti ini tidak bisa dipaksakan untuk muncul. Artinya, ketertarikan seseorang terhadap bidang tertentu sejak sebelum menjadi mahasiswa S3 akan memberinya passion yang lebih besar dibandingkan jika orang tersebut baru menyentuh bidang risetnya saat ia memulai studi S3nya.

Yang kedua, seorang mahasiswa S3 haruslah menjadi manajer yang baik, khususnya untuk dirinya sendiri. Studi S3 memerlukan fokus perhatian, usaha keras, dan alokasi waktu yang cukup. Terkadang waktu, perhatian, dan pikiran yang diperlukan melebihi alokasi yang direncanakan, sehingga mengambil jatah kepentingan lain seperti keluarga, lingkungan sosial, urusan kantor, atau bahkan kepentingan pribadi. Sering terjadi seorang mahasiswa S3 harus menghabiskan waktunya di laboratorium dari pagi sampai larut malam. Jika ini menjadi rutinitas, bagaimana dengan sisi-sisi kehidupannya yang lain? Bagaimana dengan keluarga? Bagaimana dengan kepentingan pribadi yang semestinya juga mendapatkan perhatian (misalnya: berolah raga, bersosialisasi, dan beristirahat). Jika tidak dikelola dengan baik, ketidakseimbangan dalam alokasi waktu, perhatian, dan pikiran bisa memunculkan efek negatif dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya beresiko mengganggu studi S3 itu sendiri.

Mahasiswa S3 dituntut untuk bisa mengelola kehidupannya dengan baik, dalam kondisi menghadapi tekanan dan tuntutan yang tinggi. Sering kali persoalannya tidak sesederhana mengelola kehidupan diri pribadinya, tetapi juga merembet ke lingkup yang lebih lebar, misalnya keluarga atau kantor. Sebagai contoh: banyak mahasiswa S3 di luar negeri yang mengajak keluarganya untuk ikut, dan karena ketidakmampuan keluarga beradaptasi dengan lingkungan baru, keluarga menjadi ikut tertekan, dan ini akhirnya berpengaruh pada studi mahasiswa tersebut. Studi di dalam negeripun tidak lepas dari berbagai permasalahan, meski bentuknya berbeda. Seorang dosen yang bersekolah S3 di perguruan tingginya sendiri, mau tidak mau tetap tidak bisa lepas dari penugasan-penugasan dari kampusnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah mengelola riset S3nya itu sendiri. Riset dapat diibaratkan proyek. Ada sasaran yang harus dicapai dengan cara-cara tertentu, dan ada kekangan-kekangan yang harus diperhitungkan (waktu, biaya, ketersediaan fasilitas riset, keinginan pembimbing, dan sebagainya). Persoalan mendasarnya adalah bagaimana proyek riset ini dapat diselesaikan dengan baik dalam berbagai kekangan yang ada. Mahasiswa S3 perlu melakukan hal-hal yang pada umumnya dijalankan dalam pelaksanaan proyek: perencanaan, eksekusi, pemantauan, persiapan terhadap resiko, dan penjaminan kualitas hasil. Semua ini dijalankan secara terpadu dan menyatu dengan kegiatan riset.

Syarat lain yang tidak kalah pentingnya adalah kekuatan mental. Riset adalah kegiatan yang mengandung ketidakpastian tinggi. Ketidakpastian dalam riset bisa muncul dalam berbagai manifestasi, dari mulai hasil riset yang “aneh” sampai ketidakjelasan keinginan dan sikap pembimbing. Sayangnya manusia adalah mahluk yang rentan terhadap ketidakpastian, terutama secara mental dan emosional. Frekuensi munculnya ketidakpastian yang tinggi dan dalam jangka waktu lama berpotensi meruntuhkan mental dan emosi mahasiswa. Reaksi mahasiswa biasanya diawali dengan kebingungan, kekhawatiran, atau kemarahan, dan jika ini berlanjut tanpa ada penyelesaian, muncullah rasa frustrasi, putus asa, atau apatis. Kondisi ini bisa bermuara pada gejala-gejala fisik dan psikis yang lebih serius. Untuk mencegah hal itu, seorang mahasiswa S3 harus menyiapkan mentalnya dengan baik. Mental harus kuat agar bisa mewujudkan persistensi dan ketahanan dalam menghadapi ketidakpastian.

Selain itu mahasiswa perlu melatih diri dengan ketrampilan mengelola emosi dalam menghadapi problem. Ketrampilan emosional ini penting sekali, tapi sayangnya tidak banyak orang yang sadar tentang pentingnya hal ini dalam studi S3. Kesadaran dan penguasaan diri terhadap emosi sangat diperlukan agar respons terhadap kejadian-kejadian yang tidak diharapkan bisa terukur, positif, dan tidak merusak kemajuan yang telah diperoleh sebelumnya.

Riset S3 memang menuntut syarat-syarat yang cukup berat, tetapi di sisi lain ia juga menawarkan pengalaman yang mengasyikkan sekaligus bermanfaat dalam jangka panjang. Sesungguhnya inilah “mutiara” yang seharusnya dikejar oleh para mahasiswa S3.

Standar dan Ciri Riset S3

Riset S3 adalah riset yang berada di ujung kemajuan ilmu pengetahuan. Bobot state-of-the-artnya tinggi, karena tuntutannya adalah munculnya kebaruan (novelty) yang memiliki orisinalitas tinggi. Dengan tuntutan seperti ini, maka secara alamiah dapat dikatakan bahwa sang peneliti adalah orang yang paling tahu dan mengerti tentang topik yang ditelitinya. Dialah orang yang terdepan dalam arah pengembangan ilmu pengetahuan di topik spesifik tersebut. Orang lain, termasuk pembimbingnyapun tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan sebaik dia. Matthew Might menggambarkan riset doktoral secara illustratif seperti ditunjukkan pada link ini: http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/

Banyak calon mahasiswa merasa bingung dengan ciri kebaruan dan orisinalitas. Pada tataran apakah kebaruan itu harus dimunculkan? Seberapa tinggi tingkat orisinalitas yang diharapkan? Di satu sisi, sering terjadi kebaruan dan orisinalitas diterjemahkan sebagai “belum pernah dipikirkan oleh orang lain”. Calon mahasiswa berpikir keras mencari ide atau konsep yang sama sekali di luar pakem, lepas dari konteks ilmiah akademis yang ada. Target yang ambisius seperti ini biasanya tidak akan tercapai, apalagi jika tidak didukung oleh kemampuan dan sumberdaya yang memadai.

Yang banyak terjadi justru di ekstrim lainnya, kebaruan diterjemahkan secara superfisial saja, tidak menyentuh ke esensi fundamental dari permasalahan yang dihadapi. Hal ini sering muncul karena calon mahasiswa mencoba mengekstrapolasikan pengalaman belajar mereka semasa menempuh S2 secara linear. Dalam kasus ini, kebaruan dicoba direalisasikan dengan cara memperluas cakupan riset S2 mereka. Karena belum memahami tuntutan riset S3, kebanyakan proposal ekspansi ini bersifat horizontal (meluas) saja, kurang menyentuh aspek-aspek yang lebih fundamental.

Di luar negeri, salah satu sebutan gelar doktor adalah doctor of philosophy (Ph.D). Sebutan ini menyiratkan tuntutan pencarian (quest) sampai pada tataran filsafat. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, gelar PhD tidak hanya terbatas untuk bidang filsafat saja, tapi juga digunakan pada bidang-bidang ilmu lainnya. Meskipun demikian, esensi maknanya tetap sama. Eksplorasi dan penggalian tetaplah dituntut untuk sampai menggali aspek-aspek fundamental dalam lingkup bidang ilmu tersebut. Keluaran riset S3 adalah pemahaman-pemahaman baru yang dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang itu. Yang diperkaya adalah khasanah ilmu pengetahuan, bukan pengalaman pemanfaatan (aplikasi) ilmu tersebut. Artinya, riset S3 tidak cukup sampai tataran aplikasi saja, meskipun di lingkup itupun muncul hal-hal baru yang juga menarik dan bermanfaat.

Sebagai contoh ilustrasi, di bidang keilmuan saya misalnya, riset tentang pengembangan aplikasi berbasis lokasi (location-based) untuk dipakai di kampus belumlah cukup untuk diangkat sebagai riset S3. Topik ini memang sarat dengan teknologi-teknologi kontemporer, misalnya algoritma penentuan lokasi berbasis koneksi ke wireless LAN, AJAX, atau bahkan augmented reality untuk visualisasi. Meskipun demikian, riset ini tetaplah bermain di permukaan saja (penggunaan teknologi baru untuk menjawab requirements tertentu). Lain halnya jika risetnya adalah tentang pengembangan ekosistem yang sadar terhadap konteks (context-aware) untuk mendukung proses pembelajaran. Selain penggunaan teknologi baru, ada persoalan-persoalan lain yang lebih fundamental, misalnya bagaimana merepresentasikan sebuah entitas di dunia maya, bagaimana melekatkan fitur kesadaran konteks (context-awareness) ke sebuah entitas, atau bagaimana proses pembelajaran bisa menarik manfaat dari kesadaran konteks. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan eksplorasi yang lebih dari sekedar membuat program aplikasi. Jawaban yang muncul dari proses riset, apapun hasilnya, adalah kontribusi yang signifikan terhadap pengetahuan tentang context-awareness. Pengetahuan ini kemudian dapat dikembangkan lebih jauh untuk membangun konstruksi pengetahuan baru, atau menjadi dasar bagi pengembangan solusi-solusi praktis yang bermanfaat langsung bagi pemakainya.

Secara singkat, yang membedakan riset S3 dengan riset S2 atau S1 adalah tingkat signifikansi kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di sebuah bidang. Karya Claude Shannon tentang bagaimana rangkaian relay elektris dapat digunakan untuk mengimplementasikan konstruksi logika Boolean adalah contoh karya yang berbobot S3 (meskipun Shannon mengerjakannya untuk tesis masternya!). Semua perangkat digital saat ini dikembangkan dari temuan riset ini. Sebaliknya, pembuatan aplikasi pengolah kata (word processor) selengkap apapun fiturnya, kecil kemungkinannya bisa diangkat sebagai topik riset S3 karena tidak ada kebaruan secara fundamental yang dapat digali dari sana.

Persyaratan yang berat dan bersifat fundamental terhadap riset S3 memang tidak mudah dimengerti, apalagi oleh calon mahasiswa. Inilah sebabnya mengapa calon mahasiswa perlu didampingi oleh pembimbing (promotor/supervisor). Pembimbing inilah yang dapat menentukan seberapa jauh/dalam riset yang dilakukan, untuk itu komunikasi dengan pembimbing adalah sesuatu yang sangat penting dalam studi S3.

Tuntutan yang sangat tinggi juga memerlukan kemandirian yang tinggi dari mahasiswa. Memang ada promotor atau supervisor, tetapi perannya lebih pada mengarahkan, bukan menuntun. Mahasiswa S3 harus mampu berjalan sendiri.

Kemandirian dalam riset dimulai dari persiapan melamar, sampai dinyatakan lulus dalam mempertahankan hasil risetnya. Kemandirian riset berarti mahasiswa yang memegang inisiatif dan kendali dalam mempersiapkan, menjalankan, dan menyelesaikan risetnya. Ibaratnya melakukan perjalanan menerabas hutan lebat yang tidak dikenal, mahasiswa harus menjalaninya sendirian, dari menentukan tujuan perjalanan, memilih rute, memilih alat transportasi, sampai dengan menghadapi rintangan, halangan, dan berbagai kesulitan yang ditemui selama menempuh perjalanan. Bimbingan dari promotor biasanya hanya berupa arahan dan petunjuk yang bersifat umum. Mahasiswa harus menerjemahkannya ke dalam bentuk aksi-aksi nyata yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Riset S3 adalah sebuah perjalanan hidup yang arah dan caranya ditentukan oleh mahasiswa sendiri. Di balik tantangan yang begitu besar, tersembunyi reward yang besar pula bila dapat menjalaninya dengan baik. Dalam setiap riset S3 selalu ada persoalan yang ingin diselesaikan atau pertanyaan yang ingin dijawab. Pada umumnya persoalan/pertanyaan ini diurai menjadi persoalan-persoalan yang lebih sempit dan spesifik, sehingga lebih mudah untuk memecahkannya. Riset adalah usaha untuk menjawab persoalan-persoalan ini, dan menyusun jawaban-jawaban yang diperoleh ke dalam sebuah konstruksi yang utuh sebagai jawaban atas pertanyaan utamanya.

Proses menemukan jawaban atas persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya membawa pemahaman-pemahaman baru kepada mahasiswa. Proses ini akan merangkai pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki (prior knowledge) dengan metode-metode ilmiah untuk membentuk pengetahuan-pengetahuan baru (acquired knowledge).

Persoalan atau pertanyaan riset selalu bersifat terbuka, artinya tidak ada satu jawaban eksak, dan saat ia diajukan, tidak ada yang tahu seperti apa jawabnya. Seberapa jauh persoalan riset akan dijawab, dan seberapa jauh pengetahuan baru dapat digali dan dikonstruksi sangat tergantung pada mahasiswa. Riset yang baik adalah riset yang dapat menghasilkan jawaban yang jelas dan runtut, serta menggali banyak pengetahuan baru yang menambah khasanah pengetahuan yang sudah ada. Faktor inilah yang menentukan tingkat kualitas riset S3.

Di mana letak reward riset S3? Menurut pengalaman orang-orang yang pernah menjalani studi S3, baik proses riset maupun hasilnya dapat memberikan reward yang setimpal dengan usaha yang dikeluarkan. Menjalankan riset berarti melatih intelektualitas dalam mencari jawaban dengan menggunakan metode yang obyektif, runtut, dan sistematis. Di dalamnya ada proses penalaran, menguji hipotesis, mencari data pendukung yang valid dan menerapkannya, menganalisis fenomena, sampai ke menarik kesimpulan. Aktivitas riset sebenarnya melatih cara berpikir kita. Jika terlatih berpikir secara runtut dan sistematis, maka kita akan nyaman untuk menghadapi berbagai persoalan yang menuntut solusi yang tepat. Kemampuan inilah yang sebenarnya sangat berharga bagi seorang mahasiswa S3. Setelah lulus, ia akan dilengkapi dengan pisau intelektual yang tinggi yang bisa digunakan dalam bidang apapun juga, bahkan dalam situasi-situasi non-ilmiah.

Mendapatkan hasil atau temuan dalam tiap tahapan riset juga membawa kepuasan tersendiri. Gambaran situasinya seperti saat Archimedes berseru “Eureka!”. Hasil dan temuan riset adalah hal-hal baru yang membawa mahasiswa ke “ujung ilmu pengetahuan”. Saat itu, ia adalah orang yang paling paham tentang topik penelitiannya. Bagi yang pernah mengalami, perasaan itu tidak tergantikan oleh apapun.

Selain itu, konstruksi pengetahuan yang terbentuk juga menjadi aset intelektual yang sangat berharga bagi mahasiswa. Dengan pengetahuan ini, ia menjadi ahli di bidangnya dan dapat menggunakan ilmunya untuk berkarya setelah lulus. Ia dapat melanjutkan penelitiannya, menerapkannya dalam konteks dan lingkungan nyata, atau mengajarkannya kepada mahasiswa lain.

Sumber : http://lukito.staff.ugm.ac.id/2013/02/26/karakteristik-studi-s3/

Leave a comment

Hati-Hati dengan Hati


obat-hati

Sebaik-baik diri ini, masih lebih baik orang lain.. Seburuk-buruk orang lain, masih buruk diri ini.

Penulis selalu berusaha untuk mengingat dan memahami kalimat itu, karena kalimat tersebut penulis jadikan sebagai bagian dari  menjaga hati.

Hati yang ada di dalam tubuh ini perlu selalu dijaga dan dirawat. Seperti kata Rosul dalam sebuah hadits kaitanya dengan Hati:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam hati ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah di adalah hati,” (Muttafaqun alaih).

Apabila hati tidak dijaga, akan memberikan pengaruh pada warna aktifitas kehidupan. Terlebih lagi jika hati sudah mati.

Syeikh Ibrohim Adham yang menyatakan 10 tanda hati yang Mati ialah;

  1. Mengaku kenal Allah SWT tetapi tetapi tidak menunaikan hak- haknya.
  2. Mengaku cinta pada Rasulullah Saw. tetapi tidak menunaikan daripada Sunnah-sunnah Baginda Nabi Saw.
  1. Membaca al-Quran tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.
  2. Memakan nikmat- nikmat Allah SWT tetapi tidak mensyukuri atas pemberiannya.
  3. Mengaku syaithon itu musuh tetapi tidak berjuang menentangnya
  4. Mengaku adanya nikmat surga tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.
  5. Mengaku adanya siksa neraka tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.
  6. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa tetapi masih tidak bersedia untuknya.
  7. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.
  8. Menghantarkan dan menguburkan jenazah/ mayat saudara seIslam tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

http://www.solusiislam.com/2013/06/seputar-hati-yang-mati.html.

 

Ust. arifin Ilham dalam Merdeka.com menuliskan:
Sahabatku, kusampaikan di antara tanda-tanda hati yang mati:
1. “Tarkush sholah’, berani meninggalkan salat fardhu.
2. “Adzdzanbu bil farhi”, tenang tanpa merasa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar (QS Al A’raf: 3).
3. “Karhul Qur’an”, tidak mau membaca Alquran.
4. “Hubbul ma’asyi”, terus menerus maksiat.
5. “Asikhru”, sibuknya hanya mempergunjing dan buruk sangka, serta merasa dirinya selalu lebih suci.
6. “Ghodbul ulamai”, sangat benci dengan nasihat baik dan ulama.
7. “Qolbul hajari”, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan dan akhirat.
8. “Himmatuhul bathni”, gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya.
9. “Anaaniyyun”, tidak mau tau, cuek, atau masa bodoh keadaan orang lain, bahkan pada keluarganya sendiri sekalipun menderita.
10. “Al intiqoom”, pendendam hebat.
11. “Albukhlu”, sangat pelit.
12. “Ghodhbaanun”, cepat marah karena keangkuhan dan dengki.
13. “Asy Syirku”, syirik dan percaya sekali kepada dukun dan praktiknya.

Semoga Allah menghiasi hati kita dengan keindahan iman dan kemuliaan akhlak. Aamiin.

Leave a comment

Mindset dan sikap menjadi kunci kesuksesan seseorang


Motivator dan pengarang buku asal Amerika, Earl Nightingale, mengatakan kita bisa menjadi apa yang kita pikirkan bukan hal yang salah. Ini mengingat apa yang ada di otak manusia sungguh luar biasa. Di mana memiliki mindset dan sikap yang tepat berulang kali terbukti menjadi kunci kesuksesan seseorang.

Masalahnya, hidup kita akan sangat mudah terpengaruh oleh situasi apapun. Akan selalu ada orang dan keadaan yang membuat kita merasa kecil hati dan mampu menghambat target untuk bisa sukses.

Namun jangan berkecil hati, masih ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan jika ingin sukses. Berikut beberapa hal tersebut melansir laman Lifehack, Senin (16/2/2015).

1. Berhenti mengharapkan kesempurnaan

Sering kali, kita frustasi ketika apa yang dikerjakan tidak berjalan seperti seharusnya. Bahkan sampai hal-hal kecil membuat pusing. Ketahui lah kesalahan dan penolakan adalah bagian dari hidup. Saat anda gagal, cari metode baru dan coba lagi.

2. Berhenti bilang iya saat ingin berkata tidak

Penting untuk mengetahui batas kemampuan. Sayangnya, manusia punya kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain. Akibatnya, Anda rugi sendiri karena waktu terbuang percuma. Belajar bilang “tidak” dan memprioritaskan diri penting dalam mencapai target.

3. Berhenti bicara buruk tentang diri sendiri

Tanpa kita sadari, kita sering susah move on dari kesalahan atau kejadian buruk yang terjadi di masa lalu. Dalam pikiran, kita berbicara kesalahan itu terjadi karena kita orang yang payah. Berpikir seperti itu sebetulnya kontra-produktif. Jadikan saja kesalahan itu sebagai pelajaran dan move on.

4. Berhenti berfokus pada hari ini saja

Orang-orang sukses selalu punya rencana untuk ke depan. Mereka merencanakan hari ini terkait target, budget dan tabungan. Tapi bukan berarti mereka tidak bersenang-senang. Mulai pikirkan apa yang Anda inginkan 10 sampai 15 tahun mendatang.

5. Berhenti mengacuhkan target

Jika telah memiliki target jangan berusaha menggapainya, jangan menyerah dalam memenuhi target.

6. Berhenti mengasingkan diri dari orang lain

Orang-orang sukses mengerti bahwa mereka butuh hobi, relaksasi dan keluarga. Ada impresi bahwa orang-orang sukses tidak punya waktu luang. Dalam beberapa kasus hal itu benar, tapi tidak selalu.

Mereka tidak menjauh dari orang-orang yang mereka sayangi karena target mereka, sebaliknya, mereka mengkorporasikan orang-orang tersayang ke dalam target dan hobi mereka.

7. Berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain

Orang-orang sukses fokus pada diri mereka sendiri. Walaupun mereka menganalisa kekurangan dan bisa dengan tulus mengagumi orang-orang hebat.

http://www.viva.co.id

Leave a comment

Tema Penelitian


Manajemen Keuangan

Pengertian manajemen keuangan(financial management) adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.
Sedangkan tujuannnya secara umum adalah untuk memaksimalisasi nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual maka harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin. (sumber: http://organisasi.org)
Topik-Topik Penelitian Manajemen Keuangan:
Bagi rekan-rekan dosen dan mahasiswa (khususnya mahasiswa S2 dan S3 yang akan menyusun tesis/disertasi)  yang berminat melakukan penelitian bidang manajemen keuangan, topik-topik dibawah ini mungkin dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan melakukan penelitian.
Untuk memudahkan kita akan membaginya dalam lima scope, yaitu:
       1.  Corporate Finance
       2.  Credit Management
       3.  Investments and Securities
       4.  Personal Finance
       5.  Risk Management
Rincian:

1. Corporate Finance

    Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
    Corporate Capital
          Capital Management :
                – Capital assets
                – Capital formation
                – Capital requirements
                – Capital structure
                – Collateral
                – Corporate finance
                – Equity capital
                – Leverage
                – Liabilities
                – Operating budgets
                – Real options analysis
                – Recapitalization
                – Venture capital
          Capital Spending :
                – Buy or make decisions
                – Capital budgeting
                – Capital costs
                – Capital expenditures
                – Capital investments
                – Economic justification
                – Equity financing
                – Leveraged leases
                – Operating leases
                – Project finance
          Equipment Financing :
                – Buy or lease decisions
                – Equipment acquisition planning
                – Equipment financing
                – Equipment purchasing
          Financial Operations :
                – Accounts receivable
                – Business expenses
                – Cash management
                – Corporate treasurers
                – Operating costs
                – Overhead costs
                – Profit centers
                – Startup costs
                – Treasury operations
    Corporate Debt
                – Accounts payable
                – Bad debts
                – Corporate debt
                – Debt cancellation
                – Debt financing
                – Debt management
                – Debt restructuring
                – Debt service
                – Discharge of debt
                – Liquidation
                – Mezzanine financing
                – Nonrecourse debt
                – Receivership
    Financial Performance
          Financial Analysis :
                – Debt to equity ratio
                – Financial analysis
                – Price earnings ratio
                – Value analysis
          Profits and Losses :
                – Cash flow
                – Company reports
                – Corporate profits
                – Cost of goods sold
                – Earnings
                – Financial performance
                – Insolvency
                – Market value
                – Operating losses
                – Operating revenue
                – Profit centers
                – Profit margins
                – Profit maximization
                – Profitability
                – Return on assets
                – Return on equity
                – Return on investment
2. Credit Management
    Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian :
                – Accounts receivable
                – Bankruptcy claims
                – Bankruptcy laws
                – Bankruptcy reorganization
                – Billings
                – Credit collections
                – Credit management
                – Credit managers
                – Credit policy
                – Credit reports
                – Creditors
3. Investments and Securities
   Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
    Funds
                – Closed end funds
                – Exchange traded funds
                – Hedge funds
                – Index funds
                – Mutual funds
    Futures and Options
                – Commodity futures
                – Futures market
                – Futures trading
                – Options markets
                – Options trading
                – Put & call options
                – Stock options
    Markets and Trading
          International Finance :
                – Eurobonds
                – Euromarkets
                – Foreign exchange futures
                – Foreign exchange markets
                – Foreign exchange rates
                – Offshore investing
          Investment Industry :
                – Investment advisors
                – Investment banking
                – Investment companies
                – Mortgage brokers
                – Securities industry
                – Stock brokers
                – Trustees
                – Venture capital companies
          Investors :
                – Annual meetings
                – Annual reports
                – Investment education
                – Investors
                – Shareholder relations
                – Shareholder voting
                – Shareholders rights
                – Stockholders
          Markets :
                – Bear markets
                – Bond markets
                – Bond ratings
                – Bull markets
                – Capital markets
                – Commodity markets
                – Futures market
                – New stock market listings
                – Options markets
                – Secondary markets
                – Securities markets
                – Stock exchanges
          Trading
                – Abnormal returns
                – Arbitrage
                – Demutualization
                – Earnings announcements
                – Electronic trading systems
                – Equity stake
                – Going public
                – Hedging
                – Initial public offerings
                – NASDAQ trading
                – Online securities trading
                – Securities buybacks
                – Securities offerings
                – Securities trading
                – Securities trading volume
                – Securitization
                – Spread
                – Swap arrangements
                – Volatility
    Performance Measures
                – Earnings per share
                – Earnings trends
                – Portfolio performance
                – Rates of return
                – Shareholders equity
                – Shareholders wealth
                – Yield
    Portfolio Management
                – Asset allocation
                – Institutional investments
                – Investment policy
                – Pension funds
                – Portfolio diversification
                – Portfolio investments
                – Portfolio management
                – Short sales
                – Stock indexing
                – Stock redemptions
    Securities
          Bonds :
                – Bond issues
                – Bond markets
                – Bonds
                – Government bonds
                – High yield investments
                – Junk bonds
                – Municipal bonds
                – Treasury bonds
          Other securities :
                – Asset backed securities
                – Collateralized bond obligations
                – Collateralized debt obligations
                – Collateralized loan obligations
                – Commercial paper
                – Derivatives
                – Financial instruments
                – Mortgage backed securities
          Stocks :
                – Dividends
                – Large cap investments
                – Mid cap investments
                – Restricted stock
                – Small cap investments
                – Stock offerings
                – Stock prices
                – Value stocks
4. Personal Finance
   Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
                – Distribution of retirement plan assets
                – Financial counseling
                – Financial planning
                – Personal bankruptcy
                – Personal finance
                – Retirement plan loans
                – Retirement planning
                – Roth IRAs
5. Risk Management
   Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
    Business Risk
                – Credit risk
                – Foreign exchange rate risk
                – Loss control
                – Risk assessment
                – Risk aversion
                – Risk exposure
                – Risk management
                – Risk sharing
    Insurance
                – Business insurance
                – Credit insurance
                – Directors & officers insurance
                – Professional liability insurance
                – Reinsurance

Leave a comment

Tanda Seorang Dosen


DosenTugas dosenRisetPPM

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen adalah  pendidik  profesional  dan  ilmuwan dengan  tugas  utama  mentransformasikan,  mengembangkan,  dan  menyebarluaskan  ilmu pengetahuan,  teknologi,  dan  seni  melalui pendidikan,  penelitian,  dan  pengabdian  kepada masyarakat. (Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen).

1. Memiliki ijazah Magister (S2) untuk program diploma dan sarjana, serta ijazah Doktor (S3) untuk program pascasarjana

Diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian.

2. Memiliki sertifikat pendidik.

  • Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada dosen sebagai tenaga profesional
  • Sertifikasi pendidik untuk dosen diselenggarakan oleh perguruan tinggi terakreditasi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang ditetapkan oleh Pemerintah.
3. Selalu punya energi untuk mahasiswanya
Seorang dosen yang baik menaruh perhatian pada mahasiswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. dosen yang baik juga punya kemampuan mendengar dengan seksama serta berempati dengan permasalahn sekarang.
4. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang dosen yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap pertemuan, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
5. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang dosen yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan serta perbaikan perilaku positif di dalam kelas.
6. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang dosen yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku mahasiswa yang baik, saat mahasiswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.
7. Bisa berkomunikasi dengan Baik dengan Orang Tua Seorang dosen yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi dengan anak-anak mereka di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu-isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dalam proses edukasi malahan sekarang sudah masanya elearning seperti memanfaatkan twitter, facebook dan webs edukasi.
8. Punya harapan yang tinggi pada mahasiswanya
Seorang dosen yang baik memiliki harapan yang tinggi dari mahasiswa dan mendorong semua mahasiswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.
9. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang dosen yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.
10. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Seorang dosen yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para mahasiswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.
 11. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses pengajaran
Seorang dosen yang baik bersemangat dalam mengajar dan bekerja dengan peserta didik. Mereka gembira bisa mempengaruhi mahasiswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan mahasiswanya, sekarang dan nanti ketika mahasiswanya sudah berada di dunia kerja yang sebenarnya.

12. Punya hubungan yang berkualitas dengan mahasiswa
Seorang dosen yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan mahasiswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

[Source : Dosen kreatif dot com]

Leave a comment

STRATEGI PENINGKATAN KEWIRAUSAHAAN BAGI MAHASISWA DI PENDIDIKAN TINGGI


Kaprodi STIE

STRATEGI PENINGKATAN KEWIRAUSAHAAN BAGI MAHASISWA DI PENDIDIKAN TINGGI

ABSTRACT

Universities on the creation of labor gave the significant role, so the effect on the increasing numbers of workers. If the number of workers and jobs are not balanced, then the unemployment and economic inequality will become an increasingly urgent problem to be resolved. The number of entrepreneurs in a region that is minimal, describes the low competitiveness owned. In supporting the emergence of high competitiveness, function and the role of educators to be more active in providing motivation for learners to become entrepreneurs is indispensable. College as one of the means and facilitating role in shaping the young generation has an obligation to train and motivate the students to give to become savvy generation, independent, creative, innovative and able to create business opportunities. Thus, every college immediately towards sole discretion to balance between higher education research institutions with entrepreneurs forming institutions. Alumni are required to be innovative and creative in terms of their personal development through the creation of level playing field, so that future expected with extensive job creation, economic growth in the region will increase.

Keywords: educators, labor, entrepreneurial

 

ABSTRAK

Perguruan tinggi pada penciptaan tenaga kerja meberikan peran yang cukup signifikan, sehingga berpengaruh pada meningkatnya angka jumlah tenaga kerja. Jika antara jumlah tenaga dan lapangan kerja tidak seimbang, maka pengangguran dan ketimpangan ekonomi akan menjadi permasalahan yang semakin mendesak untuk segera diselesaikan. Jumlah pengusaha disuatu wilayah yang minim, menggambarkan rendahnya daya saing yang dimiliki. Dalam menunjang munculnya daya saing yang tinggi, fungsi serta peran pendidik untuk lebih aktif dalam memberikan motivasi menjadi pengusaha bagi peserta didiknya sangat diperlukan. Perguruan tinggi sebagai salah satu sarana dan pemberi fasilitas dalam membentuk generasi muda mempunyai kewajiban dalam melatih dan memberi memotivasi kepada mahasiswanya sehingga menjadi generasi cerdas, mandiri, kreatif, inovatif dan mampu membuat peluang usaha. Maka, setiap perguruan tinggi segera menyeimbangkan arah kebijakanya antara lembaga riset pendidikan tinggi dengan lembaga pembentuk wirausahawan. Alumni dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam hal pengembangan diri mereka melalui pembuatan lapangan usaha, sehingga kedepan diharapkan dengan terciptanya lapangan pekerjaan yang luas maka pertumbuhan ekonomi di daerah akan ikut meningkat.

Kata Kunci: Pendidik, Tenaga kerja, Wirausaha.

 

 A. Pendahuluan.

Kewirausahaan adalah proses dinamik untuk menciptakan tambahan kemakmuran (Buchari Alma, 2011:33). Istilah kewirausahaan  berasal dari  terjemahan “Entrepreneurship”, Menurut Thomas W. Zimmerer, Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk usaha baru.

Kata “Wirausaha” merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris entrepreneur, yang artinya adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat dan menilai kesempatan peluang bisnis. J. B. Say menggambarkan pengusaha sebagai orang yang mampu memindahkan sumber-sumber ekonomi dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat produktivitas tinggi karena mampu menghasilkan produk yang lebih banyak.

Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Menurut dari segi etimologi (asal usul kata). Wira, artinya pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, gagah berani, berjiwa besar, dan berwatak agung. Usaha, artinya perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi, wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Wirausaha dapat mengumpulkan sumber daya yang di butuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya, dan mengambil tindakan yang tepat guna untuk memastikan keberhasilan usahanya. Wirausaha ini bukan faktor keturunan atau bakat, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan.

Fungsi dan peran adanya wirausaha dalam menentukan perkembangan dan kemajuan suatu bangsa telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti Amerika, Jepang, juga tetangga terdekat Indonesia yaitu Malaysia dan Singapura. Di negara Amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12% penduduknya menjadi pengusaha dan banyak terlibat langsung dalam kegiatan wirausaha. Hal itulah yang menjadikan negara Amerika sebagai negara yang terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Kemudian negara Jepang lebih dari 10% warganya sebagai pelaku wirausaha dan lebih dari 240 perusahaan Jepang skala kecil, menengah dan besar berdiri di wilayah Indonesia. Padahal negara Jepang mempunyai luas wilayah yang kecil dan memiliki sumber daya alam yang masih kurang mendukung namun dengan tekad dan semangat serta jiwa wirausahanya yang menjadikan negara Matahari tersebut sebagai salah satu negara terkaya di benua Asia dalam bidang iptek dan perekonomianya.

Melihat beberapa jumlah pengusaha negara tetangga yang satu rumpun dengan indonesia yaitu Singapura dan Malaysia, beberapa bukti menyebutkan lebih dari 7.2% pengusaha Singapura dan lebih dari 3% pengusaha Malaysia, menjadikan pertumbuhan dalam berbagai bidang terutama pertumbuhan ekonomi semakin memperluas jarak meninggalkan  Indonesia. Negara ini hanya memiliki 0.18 % pengusaha atau kurang dari 1% dari jumlah penduduk saat ini. Menurut sosiolog David McCleiland, sedikitnya dibutuhkan minimal 2 persen wirausaha dari populasi penduduknya, atau dibutuhkan sekitar 4,8 juta wirausaha di Indonesia saat ini untuk membangun ekonomi bangsa, menjadi bangsa yang maju. Menurut Ciputra juga mengatakan, setidaknya dibutuhkan minimal 2% pengusaha untuk menjadikan bangsa ini bangkit dari ketertinggalan dari bangsa lain yang lebih maju.

Perguruan tinggi MIT (Massachusette Institute Technology) yang berada di Amerika, tahun 1980-1996 disaat pengangguran terpelajar semakin meluas dan kondisi perekonomian, sosial politik yang kurang stabil, MIT merubah strategi dan arah kebijakan perguruan tingginya yang semula high Learning Institute and Research University berubah menjadi Entrepreneurial University. Dengan perubahan itu, meskipun terjadi banyak pro dan kontra, selama kurun waktu lebih dari 16 tahun, MIT dapat mewujudkan dan membuktikan alumni-alumni yang dihasilkan mampu memunculkan 4 ribu perusahaan, dan mampu merekrut 1.1 juta tenaga kerja dan omset yang diperoleh sebesar 232 miliar dolar pertahun. Tentunyan ini sebuah prestasi dan pencapaian yang luar biasa yang mampu berperan dalam mewujudkan kondisi Amerika menjadi negara maju dan mempunyai pengaruh besar di dunia. Strategi dan kebijakan inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses lainya.

 

B. Upaya Meningkatkan Kewirausahaan pada Perguruan Tinggi 

Melihat pada keberhasilan yang telah dicapai oleh beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa yang rata-rata seluruh lembaga perguruan tinggi yang ada telah berupaya menyisipkan materi kewirausahaan disetiap program studi, bahkan pada setiap mata kuliahnya. Sedangkan di negara-negara asia seperti Jepang, Singapura dan Malaysia juga menerapkan materi-materi kewirausahaan minimal didua semester. Hal itulah yang membentuk dan menjadikan negara-negara tetangga tersebut menjadi negara maju dan pembangunan negaranya dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan negara Indonesia.

Di negara kita Indonesia, usaha dalam menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan bagi mahasiswa di perguruan tinggi terus digalakan dan ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Bahkan pada tingkat pemerintah melalui Kementrian Koordinator Perekonomian telah memberikan peraturan kepada seluruh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi diwajibkan untuk memberikan mata pelajaran atau mata kuliah Kewirausahaan tersebut. Ada beberapa usaha atau teknik yang perlu diterapkan dalam meningkatkan minat dan kegiatan kewirausahaan bagi para peserta didik, yaitu:

  1. Pembentukan Pusat studi kewirusahaan Kampus, seperti:
  2. Koperasi Mahasiswa (KOPMA) di UMY
  3. Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA) ITB,
  4. Community Entrepreneur Program (CEP) UGM,
  5. Center for Entrepreneurship Development & Studies (CEDS) di UI,
  6. BSI Entrepreneruship Center (BEC) di BSI,
  7. Center for Entrepreneurship, Change, & Third Sector (CECT) di Univ. Tri Sakti,

Melalui media pembentukan pusat kewirausahaan kampus tersebut, akan banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan seperti: Seminar, Pelatihan, Loka karya, Praktek usaha, kerjasama usaha, dll.

  1. Menganggap penting kewirausahaan dikampus dan menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai hal yang harus diberikan kepada mahasiswa, materi kewirausahaan tidak sebatas formalitas, sehingga harus di design materi dan metode dalam pembelajarannya.
  2. Memaksimalkan dalam memanfaatkan Program kewirausahaan yang digagas oleh lembaga pemerintah, seperti: pendidikan tinggi (Dikti) melalui Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti dan disampaikan kepada para PTS melalui Kopertis. Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas bagi Mahasiswa yang di fasilitasi oleh Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans). Dan Program Pemberian Modal  Usaha Untuk Mahasiswa yang diberikan oleh Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM).
  3. Menyertakan mahasiswa dalam Program Wirausaha untuk Mahasiswa yang difasilitasi oleh lembaga-lembaga keuangan.

Hal-hal seperti inilah yang idealnya terus dikembangkan oleh lembaga pendidikan terlebih lagi pemerintah, yakni memaksimalkan dalam menambah jumlah wirausaha yang berasal dari kaum muda dan terdidik sebagai bentuk dari pemberlakuan mata kuliah kewirausaan di tingkat pemdidikan tinggi.

 

C. Strategi Peningkatan Kewirausahaan bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi

Upaya peningkatan gema kewirausahaan di perguruan tinggi, sangat terkait dengan elemen yang berperan di dalamnya, tenaga pendidik misalnya, yang paling dekat dan konsen menangani kewirausahaan di perguruan tinggi. Bukti nyata kebijakan pemerintah ini adalah dengan memasukkan mata kuliah Kewirausahaan dalam kurikulum pembelajaran, khususnya di tingkat perguruan tinggi, dimana tingkatan ini merupakan tahap akhir sebelum para mahasiswa memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Banyaknya pengangguran serta kurangnya minat berwirausaha menjadi autokritik terhadap peran dari perguruan tinggi. perguruan tinggi memiliki peran yang besar dan memiliki peluang untuk menanamkan sikap mental kewirausahaan sehingga lulusannya tidak hanya ahli pada suatu bidang akademi namun juga mampu melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang siap menjadi pahlawan ekonomi.

Sebuah konsep yang sederhana dan bukan sesuatu hal yang baru, namun layak untuk dicoba diaplikasikan oleh perguruan tinggi dalam menumbuhkan semangat wirausaha, yaitu:

  • Menyediakan tenaga pendidik atau Dosen yang konsen dan memiliki jiwa wirausaha.

Selama ini penyediaan dosen hanya sebatas pada linearitas keilmuan yang dimiliki dengan program studi yang ada di perguruan tinggi tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan dalam proses pembelajaran nilai-nilai jiwa wirausaha belum tergambar dan terwujud dalam praktiknya.

Setidaknya selain linearitas dalam menyiapkan dosen atau tenaga pendidik, perguruan tinggi harus mempersiapkan tenaga pendidik atau Dosen yang mampu melakukan hal-hal sebagai berikut, yaitu:

  1. Memberikan paradigma baru tentang pentingnya kewirausahaan.
  2. Menginspirasi dan memotivasi  mahasiswa menjadi SDM yang mandiri.
  3. Merubah atau mengarahkan pola pikir mahasiswa menjadi seorang yang berjiwa wirausaha.
  4. Memberikan contoh karya nyata kewirausahaan dan menyuguhkan cerita sukses.
  5. Menghasilkan mahasiswa atau alumni menjadi seorang wirausaha sukses.

Program peningkatan Dosen sebagai tenaga pendidik ini dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara, diantaranya sebagai berikut:

  1. Program pelatihan kewirausahaan untuk tenaga pendidik,
  2. Program seminar, workshop, lokakarya kewirausahaan.
  3. Program pemagangan dosen di dunia usaha,
  4. Program sarasehan dengan mitra usaha,
  5. Program pembinaan dan pendampingan dosen baru.

Dengan program tersebut, tentunya setiap dosen  tidak hanya sekedar mengajar kewirausahaan saja, tetapi mampu mewujudkan dan merealisasikan apa yang telah diberikan kepada mahasiswa pada saat mengajar.

 

  • Mengembangkan Kurikulum Berbasis Wirausaha.

Merumuskan sistem atau metode pembelajaran dan pelatihan kewirusahaan, perguruan tinggi harus mendesign mata kuliah atau materi kewirausahaan untuk mahasiswanya disesuaikan dengan target yang akan dicapai. Diawali dari pembuatan konsep pembelajaran yang harus dipantau oleh bidang akademik, yaitu: Silabus, satuan acara pengajaran (SAP), Slide Presentasi dan handout, modul teori, modul praktek, pembuatan buku panduan, sampai pada program kunjungan dan pengamatan langsung ke tempat usaha yang layak untuk dijadikan tempat observasi, dll.

Rumusan tersebut harus dikerjakan oleh sebuah tim yang ahli dibidang keilmuanya. Hal yang perlu diperhatikan oleh perguruan tinggi dalam merumuskan kurikulum ini adalah harus memaksimalkan dalam mengikutsertakan akademisi dan pelaku usaha serta motivator wirausaha dalam team penyusun, sehingga mata kuliah atau materi yang diberikan lebih berkualitas. Ini penting dilakukan karena kolaborasi antara akademisi, praktisi dan motivator akan menghasilkan konsep dan gagasan kewirausahaan yang  tepat dan sesuai untuk mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan. Menyusun kurikulum kewirausahaan, tidak serta merta menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah tersendiri, namun akan lebih memberikan pengaruh yang besar jika, muatan nilai-nilai kewirausahaan ini dimasukan kedalam setiap mata kuliah.

  • Membentuk Pusat Kegiatan Kewirausahaan.

Kegiatan tersebut baik institusi kampus ataupun berupa organisasi kemahasiswaan. Beberapa perguruan tinggi yang telah eksis mengelola berbagai kegiatan dibidang kewirusahaan mahasiswa layak untuk ditiru. Dengan menjadikan keberhasilan lembaga pendidikan tinggi lain sebagai acuan, akan membuat kebijakan yang diberikan menjadi lebih mudah untuk diaplikasikan. Perguruan tinggi-perguruan tinggi yang telah membuktikan keberhasilanya, memberikan gambaran bahwa lembaga tersebut telah memahami betul tentang pentingnya kewirausahaan sebagai solusi smart mahasiswanya menjadi seorang wirausaha muda dan terdidik.

 

Membentuk beberapa unit usaha yang dikelola oleh mahasiswa merupakan salah satu kesungguhan perguruan tinggi dalam mewujudkan mahasiswanya untuk menjadi seorang wirausaha, apapun jenis usahanya tentunya harus sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan institusi kampus. Unit kegiatan mahasiswa usaha yang dibentuk ini dapat dijadikan sebagai salah satu pengalaman berharga bagi mahasiswa sebelum terjun membuka usaha secara mandiri ketika nanti menjadi alumni.

 

  • Menjalin Kerjasama dengan Lembaga Usaha.

Kerjasama ini penting dilakukan oleh perguruan tinggi, dengan adanya kerja sama akan meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa, memberikan kesempatan magang usaha bagi dosen dan mahasiswa, serta memberikan kesempatan kerjasama usaha khususnya untuk mahasiswa atau alumni. Sehingga mahasiswa dapat menganalisa dan mengamati bentuk usaha nyata yang pada akhirnya akan mempunyai gambaran ketika kelak lulus dan berencana mewujudkan keinginanya untuk berwirausaha.

 

  • Kerjasama dengan Lembaga Keuangan.

Mewujudkan mahasiswa atau alumni sebagai seorang wirausaha, perguruan tinggi harus memberikan fasilitas dan kemudahan bagi mahasiswanya dalam membuka usaha,  salah satunya dengan cara menjadi fasilitator dan mediator antara mahasiswa dengan lembaga keuangan dalam hal kemudahan kredit usaha bagi mahasiswa ketika berkeinginan untuk melakukan wurausaha. Kerjasama ini dapat menjadi  kesempatan bagi mahasiswa untuk mewujudkan menjadi wirausahawan muda. Pada umumnya mahasiswa ketika memiliki keinginan untuk berwirusaha terkendala dengan modal dana. Kerjasama inilah yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi.

  • Membuat kebijakan harus sudah memiliki usaha sebagai syarat kelulusan mahasiswa.

Salah satu pemicu meningkatnya semangat kewirusahaan dari mahasiswa adalah dengan dibuatnya kebijakan syarat kelulusan, selain masa studi, indeks prestasi, dan syarat-syarat lain, syarat harus sudah memiliki usaha sepertinya layak untuk diterapkan oleh perguruan tinggi.

 

Dari beberapa strategi tersebut, jika diimplementasikan oleh perguruan tinggi dengan serius dan sungguh-sungguh  maka dapat dimungkinkan akan banyak muncul wirausahawan sukses yang berasal dari tenaga muda terdidik di negeri ini, yang dapat berperan dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan dan  pergerakan aktivitas ekonomi lokal sehingga akan terbentuk peluang dan kesempatan pekerjaan yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah pengangguran.

D. Kesimpulan

Perguruan tinggi sebagai salah satu sarana dan pemberi fasilitas dalam membentuk generasi muda mempunyai kewajiban dalam melatih dan memberi memotivasi kepada mahasiswanya sehingga menjadi generasi cerdas, mandiri, kreatif, inovatif dan mampu membuat berbagai peluang usaha. Maka dari itu, setiap perguruan tinggi segera menyeimbangkan arah kebijakan perguruan tingginya antara lembaga riset pendidikan tinggi dengan lembaga pembentuk pengusaha.

Membentuk wirausaha muda diperlukan kesungguhan dan keseriusan dari perguruan tinggi dalam mengemban misi kampus pencetak wurausahawan. Program-program kewirausahaan yang telah digagas dan dijalankan oleh berbagai perguruan tinggi khususnya di Indonesia, patut kiranya dijadikan sebagai teladan dalam memulai mewujudkan strategi perguruan tinggi dalam melahirkan wirausaha muda dan terdidik.

 

 


Daftar referensi:

 

Alma, Buchori, 2011, Kewirausahaan, Alfa Beta, Bandung.

Amin Wijaya Tunggal, 2009, Pokok-pokok Manajemen Kewirausahaan, Harvarindo, Jakarta.

Heijrahman R. Pandoyo, 1982, Wiraswasta Indonesia, BPFE, Yogyakarta.

Hisrih, Robert D, 1995, Entrepreneurship, Irwin, Chichago.

Hisrich, Robert D. Michael P. Peters, Dean A. Sepherd, 2008, Interpreneurship (Kewirausahaan), Salemba Empat, Jakarta.

Longeuccher, Justin G, Kewirausahaan I,II, Salemba Empat, Jakarta, 2001.

Marbun BW, 1993, Kekuatan dan Kelemahan Usaha Kecil Menengah, PT. Binaman, Jakarta.

Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.

Wirakusumo, Soeharto, 1997, Peranan perguruan tinggi dalam menciptakan wirausaha-wirausaha tangguh, Makalah Seminar, Jatinangor: PIBI-IKOPIN.

Kuswara Heri, 2011, Artikel berjudul “Strategi Sukses menjadi Wirausaha Muda”, terbit pada Majalah Entrepreneur Kampus BSI yaitu. BEN (BSI Entrepreneur News) Vol.04. No.02/2011.

Kuswara Heri, Artikel berjudul “Mewujudkan Entrepreneurial Campus adalah sebuah Keharusan”, terdapat pada situs: http://www.dikti.go.id

“Memahami Karakteristik Kewirausahaan” dalam http://viewcomputer.wordpress.com.

“Peranan Matakuliah Kewirausahaan” dalam http://www.ekonomi.kompasiana.com.

“Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa” dalam http://www.technopreuner-studentwelfare.its.ac.id

Leave a comment

Standar Nasional Pendidikan Tinggi


Peraturan Mentri_tahun2014_nomor049 – Standar Nasional Perguruan Tinggi

Peraturan Mentri_tahun2014_nomor049_lampiran

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 280 other followers