Menggali Hikmah dengan Ikhlas


Hikmah

Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Baqarah : 216

Artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.

Memahami ayat tersebut, kekuatan untuk mengamalkan diperlukan keihklasan, ikhlas menjadi dasar dalam membuka hati dan fikiran untuk menerima apa yang Allah berikan.

Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)

Leave a comment

Bunga Rampai Filsafat Ilmu: Mhs S3 FEB UNILA 2014


PENGANTAR

Perkuliahan program doktor di Universitas Lampung baru dimulai akhir 2014. Perjuangan panjang ini membuahkan hasil untuk Ilmu ilmu Pertanian di Fakultas Pertanian, dan Ilmu ilmu ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Salah satu ciri khas dari pascasarjana Universitas Lampung adalah penguasaan lebih pada hakekat ilmu,melalui Filsafat Ilmu, dan bagaimana mengkaji ilmu, melalui Metodologi Penelitian.

Kedua hal di atas merupakan syarat mutlak yang juga ditetapkan oleh Surat Keputusan Rektor. Oleh karena itu untuk mewujudkannya, maka mahasiswa pascasarjana program doktor di FEB merasa terpanggil untuk meninggalkan rekam jejak sebagai bukti empiris dgn cara menerbitkan tugas akhir kuliah dalam bentuk buku.

Telusuran secara teoritis akan dasar dasar Filsafat Ilmu dicoba untuk dibangun, dan yang menjadikan mozaik karya ini adalah latar belakang mahasiswa yg sangat beragam; baik dari latar profesi, maupun lainnya. Sehingga warna tulisan, rasa tulisan menjadi kaya akan nuansa cakrawala pemahamannya.

Semoga karya awal ini menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk tidak cepat berpuas diri. Maju dan berkembang adalah eksistensi akademik yg harus ada dalam semangat calon doktor yg menulis pada laman tulisan ini.

Bandarlampung. 15 maret 2015
Prof.Dr.Hi.Sudjarwo.M.S
Dosen pengampu matakuliah

2015-04-12 20-20-53_0114

Leave a comment

Visitasi Akreditasi Institusi


Baru lima kali menjadi panitia tim Akreditasi, dan ditunjuk sebagai ketua tim, namun, pengalaman tersebut mampu memberikan pengaruh positif dalam berkeinginan untuk menjadi seorang Asesor.

Prinsipnya, kerja asesor pada saat visitasi asesor hanyalah memverifikasi antara apa yang ditulis dan apa yang dilakukan oleh sebuah sistem lembaga yang mengajukan akreditasi.

Sisi lain asesor adalah seseorang yang dapat melakukan sharing ilmu di lembaga pendidikan tinggi yang berada di seluruh Indonesia, dengan sistem kerja yang mengedepankan etika dan profesionalisme.

Syarat untuk menjadi asesorpun tidak mudah, latar belakang jenjang pendidikan dan jenjang kepangkatan serta kualitas lembaga yang menjadi homebase sangat diperhitungkan.

Berawal dari itu, sepertinya untuk menjadi seorang asesor harus punya komitmen yang tinggi, kredibilitas dan intergritas dalam peningkatan kualitas diri dan lembaga tempat beraktivitas.

==000===

Asesor BAN-PT Prof. Siswadi, MSc., dari IPB. & Dr. Ahmad Rifai, M.Phill dari UIN Yogayakarta. Saat visitasi Institusi di STAI Darussalam Lampung. 7-8 April 2015.

11123032_10205137056937541_918355932_n1801058_10205137057417553_617084710_n

Memberikan arahan dan masukan, berkaitan tentang penempatan SDM sebagai pengelola lembaga pendidikan tinggi

11156934_10205137059497605_1961334728_n

Sharing dan verifikasi data dan fakta, antara yang ditulis dan dikerjakan.

Panitia Tim Visitasi Akreditasi Institusi STAI DarussalamLampung;

Drs. H. Jamiluddin Yacub, MSi.

Damanhuri, S.PdI. M.Ag.

Apri Kurniasih, M.Pd.I

Sumaryati, M.Pd.I.

Ermanita Permatasari, SH., MH.

Laila Nursafitri, M.Pd.

Nur Indah Sari, M.Pd.I.

Siti Fatimah, MSy.

Badrudin, MHI,

Nurkholis, S.Pd.I.

Nenden Theresia, M,Pd.

Dosen STAI Darussalam Lampung

Mahasiswa dan Alumni

Stakeholder.

Daftar orang-orang hebat tersebut adalah yang menjadi bagian perjalanan visitasi akreditasi institusi dapat berjalan relatif lancar dan memberikan hasil yang maksimal.

Leave a comment

Karakteristik Studi S3


PPM

Studi S3 itu identik dengan riset. Tidak ada program S3 tanpa riset. Sayangnya riset adalah sesuatu yang kadang tidak dimengerti dengan baik oleh calon mahasiswa S3, sehingga kinerja mereka tidak maksimal. Sebelum menempuh pendidikan S3, sebaiknya calon mahasiswa memahami dulu tentang dunia yang akan mereka hadapi, agar bisa menyiapkan diri dengan baik.

Menjadi Mahasiswa S3

Masa studi pada jenjang S3 tidak terlalu berbeda dengan masa studi jenjang S1, tapi mahasiswa S3 menghadapi tantangan yang amat berbeda dibandingkan dengan mahasiswa S1. Mahasiswa S1 yang diterima di sebuah program studi tertentu biasanya memiliki cukup informasi untuk memahami tentang arah dan substansi yang akan dipelajarinya. Ada pemahaman umum tentang bidang studi yang bersangkutan, ada buku panduan akademik yang berisi informasi-informasi resmi tentang program studi tersebut, serta sumber-sumber informal lain seperti dosen atau teman kuliah. Sebaliknya, begitu diterima pada program S3, seorang mahasiswa dihadapkan pada ketidakjelasan tentang apa yang harus ia lakukan. Ia harus menjawab banyak pertanyaan tentang riset yang akan dijalaninya: domain dan lingkupnya, persoalan yang harus diselesaikan, metodologinya, dan sebagainya. Tidak ada jawaban yang pasti untuk semua pertanyaan itu, dan tidak ada orang lain yang bisa membantu mencarikan jawaban. Mahasiswa harus mencari jawabannya sendiri sepanjang studinya, dan inilah yang membuat tantangan pada program S3 jauh lebih berat dibandingkan dengan pada program S1.

Mahasiswa S3 juga dituntut memiliki tanggung jawab lebih besar. Studi yang dilakukannya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri seperti halnya mahasiswa S1, tapi harus berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang yang ditekuninya. Untuk itu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mahasiswa S3.

Pertama, seorang calon doktor harus punya kecintaan dan passion terhadap bidang ilmu dan topik riset yang ditekuninya. Selama 3 tahun (sering kali lebih) masa studinya, mahasiswa akan bergelut dan berjuang keras dengan topik risetnya. Perjuangan dalam masa yang cukup panjang ini tidak akan bisa dimenangkan jika tidak ada dorongan internal dari dalam diri mahasiswa. Tanpa motivasi internal, seseorang tidak akan tahan berkutat dengan ketidakjelasan, kebuntuan, rasa frustrasi, kelelahan, dan berbagai perasaan negatif lainnya yang sering muncul dalam kurun waktu studinya.

Kecintaan dan passion adalah buah dari sebuah relasi yang berlangsung cukup lama dan intensif. Keduanya muncul sebagai akibat dari rasa ketertarikan seseorang terhadap sesuatu dan terpenuhinya harapan-harapan yang timbul selama interaksi berlangsung. Masalah rasa seperti ini tidak bisa dipaksakan untuk muncul. Artinya, ketertarikan seseorang terhadap bidang tertentu sejak sebelum menjadi mahasiswa S3 akan memberinya passion yang lebih besar dibandingkan jika orang tersebut baru menyentuh bidang risetnya saat ia memulai studi S3nya.

Yang kedua, seorang mahasiswa S3 haruslah menjadi manajer yang baik, khususnya untuk dirinya sendiri. Studi S3 memerlukan fokus perhatian, usaha keras, dan alokasi waktu yang cukup. Terkadang waktu, perhatian, dan pikiran yang diperlukan melebihi alokasi yang direncanakan, sehingga mengambil jatah kepentingan lain seperti keluarga, lingkungan sosial, urusan kantor, atau bahkan kepentingan pribadi. Sering terjadi seorang mahasiswa S3 harus menghabiskan waktunya di laboratorium dari pagi sampai larut malam. Jika ini menjadi rutinitas, bagaimana dengan sisi-sisi kehidupannya yang lain? Bagaimana dengan keluarga? Bagaimana dengan kepentingan pribadi yang semestinya juga mendapatkan perhatian (misalnya: berolah raga, bersosialisasi, dan beristirahat). Jika tidak dikelola dengan baik, ketidakseimbangan dalam alokasi waktu, perhatian, dan pikiran bisa memunculkan efek negatif dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya beresiko mengganggu studi S3 itu sendiri.

Mahasiswa S3 dituntut untuk bisa mengelola kehidupannya dengan baik, dalam kondisi menghadapi tekanan dan tuntutan yang tinggi. Sering kali persoalannya tidak sesederhana mengelola kehidupan diri pribadinya, tetapi juga merembet ke lingkup yang lebih lebar, misalnya keluarga atau kantor. Sebagai contoh: banyak mahasiswa S3 di luar negeri yang mengajak keluarganya untuk ikut, dan karena ketidakmampuan keluarga beradaptasi dengan lingkungan baru, keluarga menjadi ikut tertekan, dan ini akhirnya berpengaruh pada studi mahasiswa tersebut. Studi di dalam negeripun tidak lepas dari berbagai permasalahan, meski bentuknya berbeda. Seorang dosen yang bersekolah S3 di perguruan tingginya sendiri, mau tidak mau tetap tidak bisa lepas dari penugasan-penugasan dari kampusnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah mengelola riset S3nya itu sendiri. Riset dapat diibaratkan proyek. Ada sasaran yang harus dicapai dengan cara-cara tertentu, dan ada kekangan-kekangan yang harus diperhitungkan (waktu, biaya, ketersediaan fasilitas riset, keinginan pembimbing, dan sebagainya). Persoalan mendasarnya adalah bagaimana proyek riset ini dapat diselesaikan dengan baik dalam berbagai kekangan yang ada. Mahasiswa S3 perlu melakukan hal-hal yang pada umumnya dijalankan dalam pelaksanaan proyek: perencanaan, eksekusi, pemantauan, persiapan terhadap resiko, dan penjaminan kualitas hasil. Semua ini dijalankan secara terpadu dan menyatu dengan kegiatan riset.

Syarat lain yang tidak kalah pentingnya adalah kekuatan mental. Riset adalah kegiatan yang mengandung ketidakpastian tinggi. Ketidakpastian dalam riset bisa muncul dalam berbagai manifestasi, dari mulai hasil riset yang “aneh” sampai ketidakjelasan keinginan dan sikap pembimbing. Sayangnya manusia adalah mahluk yang rentan terhadap ketidakpastian, terutama secara mental dan emosional. Frekuensi munculnya ketidakpastian yang tinggi dan dalam jangka waktu lama berpotensi meruntuhkan mental dan emosi mahasiswa. Reaksi mahasiswa biasanya diawali dengan kebingungan, kekhawatiran, atau kemarahan, dan jika ini berlanjut tanpa ada penyelesaian, muncullah rasa frustrasi, putus asa, atau apatis. Kondisi ini bisa bermuara pada gejala-gejala fisik dan psikis yang lebih serius. Untuk mencegah hal itu, seorang mahasiswa S3 harus menyiapkan mentalnya dengan baik. Mental harus kuat agar bisa mewujudkan persistensi dan ketahanan dalam menghadapi ketidakpastian.

Selain itu mahasiswa perlu melatih diri dengan ketrampilan mengelola emosi dalam menghadapi problem. Ketrampilan emosional ini penting sekali, tapi sayangnya tidak banyak orang yang sadar tentang pentingnya hal ini dalam studi S3. Kesadaran dan penguasaan diri terhadap emosi sangat diperlukan agar respons terhadap kejadian-kejadian yang tidak diharapkan bisa terukur, positif, dan tidak merusak kemajuan yang telah diperoleh sebelumnya.

Riset S3 memang menuntut syarat-syarat yang cukup berat, tetapi di sisi lain ia juga menawarkan pengalaman yang mengasyikkan sekaligus bermanfaat dalam jangka panjang. Sesungguhnya inilah “mutiara” yang seharusnya dikejar oleh para mahasiswa S3.

Standar dan Ciri Riset S3

Riset S3 adalah riset yang berada di ujung kemajuan ilmu pengetahuan. Bobot state-of-the-artnya tinggi, karena tuntutannya adalah munculnya kebaruan (novelty) yang memiliki orisinalitas tinggi. Dengan tuntutan seperti ini, maka secara alamiah dapat dikatakan bahwa sang peneliti adalah orang yang paling tahu dan mengerti tentang topik yang ditelitinya. Dialah orang yang terdepan dalam arah pengembangan ilmu pengetahuan di topik spesifik tersebut. Orang lain, termasuk pembimbingnyapun tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan sebaik dia. Matthew Might menggambarkan riset doktoral secara illustratif seperti ditunjukkan pada link ini: http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/

Banyak calon mahasiswa merasa bingung dengan ciri kebaruan dan orisinalitas. Pada tataran apakah kebaruan itu harus dimunculkan? Seberapa tinggi tingkat orisinalitas yang diharapkan? Di satu sisi, sering terjadi kebaruan dan orisinalitas diterjemahkan sebagai “belum pernah dipikirkan oleh orang lain”. Calon mahasiswa berpikir keras mencari ide atau konsep yang sama sekali di luar pakem, lepas dari konteks ilmiah akademis yang ada. Target yang ambisius seperti ini biasanya tidak akan tercapai, apalagi jika tidak didukung oleh kemampuan dan sumberdaya yang memadai.

Yang banyak terjadi justru di ekstrim lainnya, kebaruan diterjemahkan secara superfisial saja, tidak menyentuh ke esensi fundamental dari permasalahan yang dihadapi. Hal ini sering muncul karena calon mahasiswa mencoba mengekstrapolasikan pengalaman belajar mereka semasa menempuh S2 secara linear. Dalam kasus ini, kebaruan dicoba direalisasikan dengan cara memperluas cakupan riset S2 mereka. Karena belum memahami tuntutan riset S3, kebanyakan proposal ekspansi ini bersifat horizontal (meluas) saja, kurang menyentuh aspek-aspek yang lebih fundamental.

Di luar negeri, salah satu sebutan gelar doktor adalah doctor of philosophy (Ph.D). Sebutan ini menyiratkan tuntutan pencarian (quest) sampai pada tataran filsafat. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, gelar PhD tidak hanya terbatas untuk bidang filsafat saja, tapi juga digunakan pada bidang-bidang ilmu lainnya. Meskipun demikian, esensi maknanya tetap sama. Eksplorasi dan penggalian tetaplah dituntut untuk sampai menggali aspek-aspek fundamental dalam lingkup bidang ilmu tersebut. Keluaran riset S3 adalah pemahaman-pemahaman baru yang dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang itu. Yang diperkaya adalah khasanah ilmu pengetahuan, bukan pengalaman pemanfaatan (aplikasi) ilmu tersebut. Artinya, riset S3 tidak cukup sampai tataran aplikasi saja, meskipun di lingkup itupun muncul hal-hal baru yang juga menarik dan bermanfaat.

Sebagai contoh ilustrasi, di bidang keilmuan saya misalnya, riset tentang pengembangan aplikasi berbasis lokasi (location-based) untuk dipakai di kampus belumlah cukup untuk diangkat sebagai riset S3. Topik ini memang sarat dengan teknologi-teknologi kontemporer, misalnya algoritma penentuan lokasi berbasis koneksi ke wireless LAN, AJAX, atau bahkan augmented reality untuk visualisasi. Meskipun demikian, riset ini tetaplah bermain di permukaan saja (penggunaan teknologi baru untuk menjawab requirements tertentu). Lain halnya jika risetnya adalah tentang pengembangan ekosistem yang sadar terhadap konteks (context-aware) untuk mendukung proses pembelajaran. Selain penggunaan teknologi baru, ada persoalan-persoalan lain yang lebih fundamental, misalnya bagaimana merepresentasikan sebuah entitas di dunia maya, bagaimana melekatkan fitur kesadaran konteks (context-awareness) ke sebuah entitas, atau bagaimana proses pembelajaran bisa menarik manfaat dari kesadaran konteks. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan eksplorasi yang lebih dari sekedar membuat program aplikasi. Jawaban yang muncul dari proses riset, apapun hasilnya, adalah kontribusi yang signifikan terhadap pengetahuan tentang context-awareness. Pengetahuan ini kemudian dapat dikembangkan lebih jauh untuk membangun konstruksi pengetahuan baru, atau menjadi dasar bagi pengembangan solusi-solusi praktis yang bermanfaat langsung bagi pemakainya.

Secara singkat, yang membedakan riset S3 dengan riset S2 atau S1 adalah tingkat signifikansi kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di sebuah bidang. Karya Claude Shannon tentang bagaimana rangkaian relay elektris dapat digunakan untuk mengimplementasikan konstruksi logika Boolean adalah contoh karya yang berbobot S3 (meskipun Shannon mengerjakannya untuk tesis masternya!). Semua perangkat digital saat ini dikembangkan dari temuan riset ini. Sebaliknya, pembuatan aplikasi pengolah kata (word processor) selengkap apapun fiturnya, kecil kemungkinannya bisa diangkat sebagai topik riset S3 karena tidak ada kebaruan secara fundamental yang dapat digali dari sana.

Persyaratan yang berat dan bersifat fundamental terhadap riset S3 memang tidak mudah dimengerti, apalagi oleh calon mahasiswa. Inilah sebabnya mengapa calon mahasiswa perlu didampingi oleh pembimbing (promotor/supervisor). Pembimbing inilah yang dapat menentukan seberapa jauh/dalam riset yang dilakukan, untuk itu komunikasi dengan pembimbing adalah sesuatu yang sangat penting dalam studi S3.

Tuntutan yang sangat tinggi juga memerlukan kemandirian yang tinggi dari mahasiswa. Memang ada promotor atau supervisor, tetapi perannya lebih pada mengarahkan, bukan menuntun. Mahasiswa S3 harus mampu berjalan sendiri.

Kemandirian dalam riset dimulai dari persiapan melamar, sampai dinyatakan lulus dalam mempertahankan hasil risetnya. Kemandirian riset berarti mahasiswa yang memegang inisiatif dan kendali dalam mempersiapkan, menjalankan, dan menyelesaikan risetnya. Ibaratnya melakukan perjalanan menerabas hutan lebat yang tidak dikenal, mahasiswa harus menjalaninya sendirian, dari menentukan tujuan perjalanan, memilih rute, memilih alat transportasi, sampai dengan menghadapi rintangan, halangan, dan berbagai kesulitan yang ditemui selama menempuh perjalanan. Bimbingan dari promotor biasanya hanya berupa arahan dan petunjuk yang bersifat umum. Mahasiswa harus menerjemahkannya ke dalam bentuk aksi-aksi nyata yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Riset S3 adalah sebuah perjalanan hidup yang arah dan caranya ditentukan oleh mahasiswa sendiri. Di balik tantangan yang begitu besar, tersembunyi reward yang besar pula bila dapat menjalaninya dengan baik. Dalam setiap riset S3 selalu ada persoalan yang ingin diselesaikan atau pertanyaan yang ingin dijawab. Pada umumnya persoalan/pertanyaan ini diurai menjadi persoalan-persoalan yang lebih sempit dan spesifik, sehingga lebih mudah untuk memecahkannya. Riset adalah usaha untuk menjawab persoalan-persoalan ini, dan menyusun jawaban-jawaban yang diperoleh ke dalam sebuah konstruksi yang utuh sebagai jawaban atas pertanyaan utamanya.

Proses menemukan jawaban atas persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya membawa pemahaman-pemahaman baru kepada mahasiswa. Proses ini akan merangkai pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki (prior knowledge) dengan metode-metode ilmiah untuk membentuk pengetahuan-pengetahuan baru (acquired knowledge).

Persoalan atau pertanyaan riset selalu bersifat terbuka, artinya tidak ada satu jawaban eksak, dan saat ia diajukan, tidak ada yang tahu seperti apa jawabnya. Seberapa jauh persoalan riset akan dijawab, dan seberapa jauh pengetahuan baru dapat digali dan dikonstruksi sangat tergantung pada mahasiswa. Riset yang baik adalah riset yang dapat menghasilkan jawaban yang jelas dan runtut, serta menggali banyak pengetahuan baru yang menambah khasanah pengetahuan yang sudah ada. Faktor inilah yang menentukan tingkat kualitas riset S3.

Di mana letak reward riset S3? Menurut pengalaman orang-orang yang pernah menjalani studi S3, baik proses riset maupun hasilnya dapat memberikan reward yang setimpal dengan usaha yang dikeluarkan. Menjalankan riset berarti melatih intelektualitas dalam mencari jawaban dengan menggunakan metode yang obyektif, runtut, dan sistematis. Di dalamnya ada proses penalaran, menguji hipotesis, mencari data pendukung yang valid dan menerapkannya, menganalisis fenomena, sampai ke menarik kesimpulan. Aktivitas riset sebenarnya melatih cara berpikir kita. Jika terlatih berpikir secara runtut dan sistematis, maka kita akan nyaman untuk menghadapi berbagai persoalan yang menuntut solusi yang tepat. Kemampuan inilah yang sebenarnya sangat berharga bagi seorang mahasiswa S3. Setelah lulus, ia akan dilengkapi dengan pisau intelektual yang tinggi yang bisa digunakan dalam bidang apapun juga, bahkan dalam situasi-situasi non-ilmiah.

Mendapatkan hasil atau temuan dalam tiap tahapan riset juga membawa kepuasan tersendiri. Gambaran situasinya seperti saat Archimedes berseru “Eureka!”. Hasil dan temuan riset adalah hal-hal baru yang membawa mahasiswa ke “ujung ilmu pengetahuan”. Saat itu, ia adalah orang yang paling paham tentang topik penelitiannya. Bagi yang pernah mengalami, perasaan itu tidak tergantikan oleh apapun.

Selain itu, konstruksi pengetahuan yang terbentuk juga menjadi aset intelektual yang sangat berharga bagi mahasiswa. Dengan pengetahuan ini, ia menjadi ahli di bidangnya dan dapat menggunakan ilmunya untuk berkarya setelah lulus. Ia dapat melanjutkan penelitiannya, menerapkannya dalam konteks dan lingkungan nyata, atau mengajarkannya kepada mahasiswa lain.

Sumber : http://lukito.staff.ugm.ac.id/2013/02/26/karakteristik-studi-s3/

Leave a comment

Hati-Hati dengan Hati


obat-hati

Sebaik-baik diri ini, masih lebih baik orang lain.. Seburuk-buruk orang lain, masih buruk diri ini.

Penulis selalu berusaha untuk mengingat dan memahami kalimat itu, karena kalimat tersebut penulis jadikan sebagai bagian dari  menjaga hati.

Hati yang ada di dalam tubuh ini perlu selalu dijaga dan dirawat. Seperti kata Rosul dalam sebuah hadits kaitanya dengan Hati:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam hati ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah di adalah hati,” (Muttafaqun alaih).

Apabila hati tidak dijaga, akan memberikan pengaruh pada warna aktifitas kehidupan. Terlebih lagi jika hati sudah mati.

Syeikh Ibrohim Adham yang menyatakan 10 tanda hati yang Mati ialah;

  1. Mengaku kenal Allah SWT tetapi tetapi tidak menunaikan hak- haknya.
  2. Mengaku cinta pada Rasulullah Saw. tetapi tidak menunaikan daripada Sunnah-sunnah Baginda Nabi Saw.
  1. Membaca al-Quran tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.
  2. Memakan nikmat- nikmat Allah SWT tetapi tidak mensyukuri atas pemberiannya.
  3. Mengaku syaithon itu musuh tetapi tidak berjuang menentangnya
  4. Mengaku adanya nikmat surga tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.
  5. Mengaku adanya siksa neraka tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.
  6. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa tetapi masih tidak bersedia untuknya.
  7. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.
  8. Menghantarkan dan menguburkan jenazah/ mayat saudara seIslam tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

http://www.solusiislam.com/2013/06/seputar-hati-yang-mati.html.

 

Ust. arifin Ilham dalam Merdeka.com menuliskan:
Sahabatku, kusampaikan di antara tanda-tanda hati yang mati:
1. “Tarkush sholah’, berani meninggalkan salat fardhu.
2. “Adzdzanbu bil farhi”, tenang tanpa merasa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar (QS Al A’raf: 3).
3. “Karhul Qur’an”, tidak mau membaca Alquran.
4. “Hubbul ma’asyi”, terus menerus maksiat.
5. “Asikhru”, sibuknya hanya mempergunjing dan buruk sangka, serta merasa dirinya selalu lebih suci.
6. “Ghodbul ulamai”, sangat benci dengan nasihat baik dan ulama.
7. “Qolbul hajari”, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan dan akhirat.
8. “Himmatuhul bathni”, gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya.
9. “Anaaniyyun”, tidak mau tau, cuek, atau masa bodoh keadaan orang lain, bahkan pada keluarganya sendiri sekalipun menderita.
10. “Al intiqoom”, pendendam hebat.
11. “Albukhlu”, sangat pelit.
12. “Ghodhbaanun”, cepat marah karena keangkuhan dan dengki.
13. “Asy Syirku”, syirik dan percaya sekali kepada dukun dan praktiknya.

Semoga Allah menghiasi hati kita dengan keindahan iman dan kemuliaan akhlak. Aamiin.

Leave a comment

Mindset dan sikap menjadi kunci kesuksesan seseorang


Motivator dan pengarang buku asal Amerika, Earl Nightingale, mengatakan kita bisa menjadi apa yang kita pikirkan bukan hal yang salah. Ini mengingat apa yang ada di otak manusia sungguh luar biasa. Di mana memiliki mindset dan sikap yang tepat berulang kali terbukti menjadi kunci kesuksesan seseorang.

Masalahnya, hidup kita akan sangat mudah terpengaruh oleh situasi apapun. Akan selalu ada orang dan keadaan yang membuat kita merasa kecil hati dan mampu menghambat target untuk bisa sukses.

Namun jangan berkecil hati, masih ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan jika ingin sukses. Berikut beberapa hal tersebut melansir laman Lifehack, Senin (16/2/2015).

1. Berhenti mengharapkan kesempurnaan

Sering kali, kita frustasi ketika apa yang dikerjakan tidak berjalan seperti seharusnya. Bahkan sampai hal-hal kecil membuat pusing. Ketahui lah kesalahan dan penolakan adalah bagian dari hidup. Saat anda gagal, cari metode baru dan coba lagi.

2. Berhenti bilang iya saat ingin berkata tidak

Penting untuk mengetahui batas kemampuan. Sayangnya, manusia punya kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain. Akibatnya, Anda rugi sendiri karena waktu terbuang percuma. Belajar bilang “tidak” dan memprioritaskan diri penting dalam mencapai target.

3. Berhenti bicara buruk tentang diri sendiri

Tanpa kita sadari, kita sering susah move on dari kesalahan atau kejadian buruk yang terjadi di masa lalu. Dalam pikiran, kita berbicara kesalahan itu terjadi karena kita orang yang payah. Berpikir seperti itu sebetulnya kontra-produktif. Jadikan saja kesalahan itu sebagai pelajaran dan move on.

4. Berhenti berfokus pada hari ini saja

Orang-orang sukses selalu punya rencana untuk ke depan. Mereka merencanakan hari ini terkait target, budget dan tabungan. Tapi bukan berarti mereka tidak bersenang-senang. Mulai pikirkan apa yang Anda inginkan 10 sampai 15 tahun mendatang.

5. Berhenti mengacuhkan target

Jika telah memiliki target jangan berusaha menggapainya, jangan menyerah dalam memenuhi target.

6. Berhenti mengasingkan diri dari orang lain

Orang-orang sukses mengerti bahwa mereka butuh hobi, relaksasi dan keluarga. Ada impresi bahwa orang-orang sukses tidak punya waktu luang. Dalam beberapa kasus hal itu benar, tapi tidak selalu.

Mereka tidak menjauh dari orang-orang yang mereka sayangi karena target mereka, sebaliknya, mereka mengkorporasikan orang-orang tersayang ke dalam target dan hobi mereka.

7. Berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain

Orang-orang sukses fokus pada diri mereka sendiri. Walaupun mereka menganalisa kekurangan dan bisa dengan tulus mengagumi orang-orang hebat.

http://www.viva.co.id

Leave a comment

Tema Penelitian


Manajemen Keuangan

Pengertian manajemen keuangan(financial management) adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.
Sedangkan tujuannnya secara umum adalah untuk memaksimalisasi nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual maka harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin. (sumber: http://organisasi.org)
Topik-Topik Penelitian Manajemen Keuangan:
Bagi rekan-rekan dosen dan mahasiswa (khususnya mahasiswa S2 dan S3 yang akan menyusun tesis/disertasi)  yang berminat melakukan penelitian bidang manajemen keuangan, topik-topik dibawah ini mungkin dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan melakukan penelitian.
Untuk memudahkan kita akan membaginya dalam lima scope, yaitu:
       1.  Corporate Finance
       2.  Credit Management
       3.  Investments and Securities
       4.  Personal Finance
       5.  Risk Management
Rincian:

1. Corporate Finance

    Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
    Corporate Capital
          Capital Management :
                – Capital assets
                – Capital formation
                – Capital requirements
                – Capital structure
                – Collateral
                – Corporate finance
                – Equity capital
                – Leverage
                – Liabilities
                – Operating budgets
                – Real options analysis
                – Recapitalization
                – Venture capital
          Capital Spending :
                – Buy or make decisions
                – Capital budgeting
                – Capital costs
                – Capital expenditures
                – Capital investments
                – Economic justification
                – Equity financing
                – Leveraged leases
                – Operating leases
                – Project finance
          Equipment Financing :
                – Buy or lease decisions
                – Equipment acquisition planning
                – Equipment financing
                – Equipment purchasing
          Financial Operations :
                – Accounts receivable
                – Business expenses
                – Cash management
                – Corporate treasurers
                – Operating costs
                – Overhead costs
                – Profit centers
                – Startup costs
                – Treasury operations
    Corporate Debt
                – Accounts payable
                – Bad debts
                – Corporate debt
                – Debt cancellation
                – Debt financing
                – Debt management
                – Debt restructuring
                – Debt service
                – Discharge of debt
                – Liquidation
                – Mezzanine financing
                – Nonrecourse debt
                – Receivership
    Financial Performance
          Financial Analysis :
                – Debt to equity ratio
                – Financial analysis
                – Price earnings ratio
                – Value analysis
          Profits and Losses :
                – Cash flow
                – Company reports
                – Corporate profits
                – Cost of goods sold
                – Earnings
                – Financial performance
                – Insolvency
                – Market value
                – Operating losses
                – Operating revenue
                – Profit centers
                – Profit margins
                – Profit maximization
                – Profitability
                – Return on assets
                – Return on equity
                – Return on investment
2. Credit Management
    Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian :
                – Accounts receivable
                – Bankruptcy claims
                – Bankruptcy laws
                – Bankruptcy reorganization
                – Billings
                – Credit collections
                – Credit management
                – Credit managers
                – Credit policy
                – Credit reports
                – Creditors
3. Investments and Securities
   Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
    Funds
                – Closed end funds
                – Exchange traded funds
                – Hedge funds
                – Index funds
                – Mutual funds
    Futures and Options
                – Commodity futures
                – Futures market
                – Futures trading
                – Options markets
                – Options trading
                – Put & call options
                – Stock options
    Markets and Trading
          International Finance :
                – Eurobonds
                – Euromarkets
                – Foreign exchange futures
                – Foreign exchange markets
                – Foreign exchange rates
                – Offshore investing
          Investment Industry :
                – Investment advisors
                – Investment banking
                – Investment companies
                – Mortgage brokers
                – Securities industry
                – Stock brokers
                – Trustees
                – Venture capital companies
          Investors :
                – Annual meetings
                – Annual reports
                – Investment education
                – Investors
                – Shareholder relations
                – Shareholder voting
                – Shareholders rights
                – Stockholders
          Markets :
                – Bear markets
                – Bond markets
                – Bond ratings
                – Bull markets
                – Capital markets
                – Commodity markets
                – Futures market
                – New stock market listings
                – Options markets
                – Secondary markets
                – Securities markets
                – Stock exchanges
          Trading
                – Abnormal returns
                – Arbitrage
                – Demutualization
                – Earnings announcements
                – Electronic trading systems
                – Equity stake
                – Going public
                – Hedging
                – Initial public offerings
                – NASDAQ trading
                – Online securities trading
                – Securities buybacks
                – Securities offerings
                – Securities trading
                – Securities trading volume
                – Securitization
                – Spread
                – Swap arrangements
                – Volatility
    Performance Measures
                – Earnings per share
                – Earnings trends
                – Portfolio performance
                – Rates of return
                – Shareholders equity
                – Shareholders wealth
                – Yield
    Portfolio Management
                – Asset allocation
                – Institutional investments
                – Investment policy
                – Pension funds
                – Portfolio diversification
                – Portfolio investments
                – Portfolio management
                – Short sales
                – Stock indexing
                – Stock redemptions
    Securities
          Bonds :
                – Bond issues
                – Bond markets
                – Bonds
                – Government bonds
                – High yield investments
                – Junk bonds
                – Municipal bonds
                – Treasury bonds
          Other securities :
                – Asset backed securities
                – Collateralized bond obligations
                – Collateralized debt obligations
                – Collateralized loan obligations
                – Commercial paper
                – Derivatives
                – Financial instruments
                – Mortgage backed securities
          Stocks :
                – Dividends
                – Large cap investments
                – Mid cap investments
                – Restricted stock
                – Small cap investments
                – Stock offerings
                – Stock prices
                – Value stocks
4. Personal Finance
   Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
                – Distribution of retirement plan assets
                – Financial counseling
                – Financial planning
                – Personal bankruptcy
                – Personal finance
                – Retirement plan loans
                – Retirement planning
                – Roth IRAs
5. Risk Management
   Topik-topik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian:
    Business Risk
                – Credit risk
                – Foreign exchange rate risk
                – Loss control
                – Risk assessment
                – Risk aversion
                – Risk exposure
                – Risk management
                – Risk sharing
    Insurance
                – Business insurance
                – Credit insurance
                – Directors & officers insurance
                – Professional liability insurance
                – Reinsurance

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 280 other followers